## Tangisan yang Menjadi Nyanyian Jiwa Hujan mengguyur paviliun bambu yang rapuh, persis seperti hati Jinghua. Aroma dupa sandalwood bercampur dengan bau tanah basah, mengisi udara dengan kegetiran. Di hadapannya, berdiri Junlin, sosok yang dulunya adalah *matahari* dalam hidupnya, kini hanyalah bayangan pucat di bawah rembulan mendung. "Junlin," bisik Jinghua, suaranya serak. Gaun sutra birunya basah kuyup, namun ia tak peduli. Dinginnya menusuk tulang, tapi rasa sakit di hatinya jauh lebih membekukan. "Kau berjanji... kau berjanji akan menungguku." Junlin menunduk, tangannya terkepal erat. Di jari manisnya melingkar cincin giok, simbol pernikahan dengan putri mahkota. *Putri mahkota!* Jinghua menelan ludah pahit. Janji sehidup semati mereka lenyap ditelan ambisi. "Aku... aku tidak punya pilihan, Jinghua," gumam Junlin, nadanya penuh penyesalan. "Negara dalam bahaya. Aku harus menikahi putri mahkota untuk mengamankan aliansi." Pilihan? Kata itu bagaikan cambuk yang menghantam wajah Jinghua. Pilihan untuk menghancurkan hatinya? Pilihan untuk mengkhianati cinta mereka? Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat. Tangisan itu bukan lagi sekadar kesedihan, melainkan nyanyian jiwa yang terluka, sebuah requiem untuk cinta yang telah mati. "Kau tahu, Junlin," kata Jinghua, mengangkat wajahnya yang penuh air mata. Senyum pahit terukir di bibirnya. "Dulu aku percaya bahwa takdir bisa diubah. Aku salah. Takdir memang tidak bisa diubah, tapi **KITA** bisa menari bersamanya." Junlin terdiam, menatap Jinghua dengan tatapan kosong. Ia melihat kekecewaan yang mendalam, tapi juga sesuatu yang lain... sesuatu yang dingin dan menakutkan. Beberapa bulan kemudian, istana diguncang berita duka. Putri Mahkota ditemukan tewas di kamarnya sendiri, diduga akibat penyakit langka. Junlin, yang kini telah dinobatkan sebagai Kaisar, tampak terpukul. Ia memerintahkan pemakaman mewah, namun di balik kesedihannya, ada sebersit kecemasan. Jinghua, yang kini dikenal sebagai *Tabib Istana Jing*, dengan tenang meracik obat-obatan untuk Kaisar. Obat penenang, katanya. Obat untuk meringankan kesedihannya. Namun, di dalam ramuan itu, ada setetes racun yang sangat halus, tak terdeteksi oleh mata awam. Racun yang perlahan-lahan akan melemahkan tubuhnya, menggerogoti jiwanya, sampai ia menjadi bayangan dari dirinya sendiri. Tak ada yang menyangka, *Tabib Istana Jing* yang setia adalah Jinghua, wanita yang hatinya pernah diremukkan oleh Kaisar. Keadilan? Mungkin. Balas dendam? Mungkin. Tapi yang jelas, tangisan yang menjadi nyanyian jiwa itu telah melahirkan *simfoni kepedihan* yang abadi. Cinta yang dikhianati, akan selalu menuntut balas, bahkan jika balas itu disamarkan dalam *kasih*.
You Might Also Like: 69 Kelebihan Sunscreen Mineral Dengan
Share on Facebook