Baik, ini dia kisah Dracin fantasi yang kamu minta: **Aku Berjanji Takkan Menangis, Tapi Air Mata Tak Tahu Cara Berhenti** Lentera-lentera berlayar di permukaan Danau Seribu Hati, setiap nyala mewakili sebuah janji yang terucap di dunia manusia, dan dunia roh. Bayangan-bayangan memanjang di dinding tebing, berbisik dalam bahasa yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang berada di antara dua dunia. Bulan purnama menggantung di atas kepala, *mengukir* nama-nama dalam ingatannya yang abadi. Nama pertamaku, "Lin Yue," telah lama dilupakan di dunia manusia, namun di sini, di alam roh, ia beresonansi seperti gema yang tak berkesudahan. Aku, yang dulunya adalah Lin Yue, sekarang dikenal sebagai Yue'er – Bulan Kecil. Aku mati. Ya, itu adalah kata yang pahit. Aku ingat pedang yang menembus dadaku, wajah-wajah yang menangis, dan kemudian… kekosongan. Namun, kekosongan itu hanya sementara. Aku terbangun di dunia ini, dunia yang terbuat dari mimpi dan bayang-bayang. Dunia ini indah dan menakutkan. Pohon-pohonnya memiliki daun dari kristal, sungai-sungainya mengalirkan cahaya bintang, dan makhluk-makhluknya menari di batas antara nyata dan ilusi. Aku diajari oleh roh-roh kuno tentang kekuatan yang ada di dalam diriku, tentang takdir yang telah menantiku sejak lama. Aku diajari bahwa kematianku di dunia lama bukanlah akhir, melainkan *AWAL*. "Kematianmu bukanlah kesalahan, Yue'er," kata Sang Tetua, roh berbentuk angin yang berbisik melalui dedaunan kristal. "Ia adalah kunci. Kunci untuk membuka kekuatan terpendam yang akan menyeimbangkan dunia ini." Tapi keseimbangan macam apa yang harus aku jaga? Dan mengapa aku, seorang gadis biasa dari dunia manusia, ditunjuk untuk tugas ini? Aku bertemu dengan dua sosok yang memainkan peran penting dalam takdirku. Yang pertama adalah Xuan Yi, seorang pangeran roh dengan mata seindah langit senja. Ia penuh perhatian, setia, dan tampaknya… mencintaiku. Ia berjanji akan melindungiku, menuntunku, dan bersumpah takkan pernah membiarkan air mata membasahi pipiku lagi. Ia memberiku harapan, rasa aman, dan keyakinan bahwa aku bisa menjalani takdir ini. Yang kedua adalah Bai Lian, seorang dewi bulan dengan senyum selembut sutra, namun matanya menyimpan rahasia yang dalam. Ia adalah mentorku, membimbingku dalam seni sihir dan peperangan. Ia kuat, bijaksana, dan… *mengendalikan*. Ia selalu tahu apa yang harus aku lakukan, apa yang harus aku katakan, dan ke mana aku harus pergi. Ia meyakinkanku bahwa ia melakukan semua ini untuk kebaikanku, untuk kebaikan dunia. Namun, ada sesuatu yang tidak beres. Semakin dalam aku menggali rahasia dunia roh, semakin banyak kebohongan yang terungkap. Aku mulai melihat retakan dalam fasad Xuan Yi, keraguan dalam senyum Bai Lian. Bayangan-bayangan mulai berbisik tentang pengkhianatan, tentang takdir yang dimanipulasi, tentang *cinta* yang palsu. Aku menemukan buku kuno tersembunyi di perpustakaan terlarang. Di sana, aku membaca tentang ramalan yang mengerikan: "Bulan Kecil akan datang, membawa kekuatan yang akan menghancurkan atau menyelamatkan dunia. Tapi ia akan dikhianati oleh salah satu dari mereka yang mengaku mencintainya." Saat itulah aku menyadari semuanya. Kematianku di dunia lama bukanlah kecelakaan. Itu *direncanakan*. Aku dikirim ke dunia roh bukan untuk menyelamatkan, tetapi untuk *dimanfaatkan*. Kekuatan yang ada di dalam diriku adalah kunci untuk membuka gerbang menuju dunia manusia, gerbang yang ingin dikuasai oleh salah satu dari mereka. Siapa yang mencintai dan siapa yang memanipulasi? Xuan Yi, dengan janji-janjinya yang manis, ternyata adalah boneka Bai Lian. Bai Lian, sang dewi bulan, ternyata adalah *dalang* di balik semuanya. Ia telah menggunakan kematianku, rasa sakitku, dan cintaku untuk mencapai tujuannya. Ia ingin menggabungkan dunia roh dan dunia manusia, dan menjadi penguasa mutlak. Aku menangis. Aku berjanji takkan menangis, tapi air mata tak tahu cara berhenti. Dengan sisa kekuatan yang kupunya, aku menghadapi Bai Lian. Pertarungan itu dahsyat, mengguncang seluruh dunia roh. Pada akhirnya, aku berhasil mengalahkannya, menutup gerbang, dan menyelamatkan kedua dunia. Namun, kemenangan itu pahit. Aku kehilangan segalanya, termasuk ilusi tentang cinta. Aku menatap Xuan Yi, air mata masih mengalir di pipiku. "Mengapa?" bisikku. Ia hanya menunduk, tidak mampu menjawab pertanyaanku. Aku berbalik, berjalan menjauh dari mereka berdua, menuju masa depan yang tidak pasti. Aku adalah Yue'er, Bulan Kecil, dan takdirku masih belum selesai. **"Ketika dua dunia bertabrakan, hanya kebenaran yang akan menentukan jalan yang akan ditempuh."**
You Might Also Like: Skincare Pencerah Wajah Tanpa Iritasi
Share on Facebook