Baiklah, inilah kisah pendek yang Anda minta: **Hujan Menggigil di Tepi Ingatan** Hujan mencambuk jendela kafe usang. Suaranya bagai bisikan hantu, membawa aroma tanah basah dan kenangan yang *seharusnya* terkubur dalam-dalam. Di dalam, Lin Yue duduk membelakangi pintu. Siluet tubuhnya yang rapuh nyaris lenyap ditelan kegelapan. Tangannya menggenggam cangkir teh hangat, namun uapnya tak mampu menghangatkan hatinya yang membeku. Dia menunggu. Delapan tahun berlalu sejak malam pengkhianatan itu. Delapan tahun sejak Li Wei, kekasihnya, memilih ambisi dan kekayaan daripada janji suci mereka. Lin Yue masih ingat *kata-kata* itu, bagai pecahan kaca yang menghujam jantungnya. “Maafkan aku, Yue. Kita… kita tidak mungkin bersama.” Pintu berderit terbuka. Li Wei berdiri di ambang, bayangannya patah diterpa cahaya lentera yang nyaris padam. Wajahnya menua, garis-garis halus mengukir penyesalan di sekitar mata. Dia mendekat, langkahnya ragu. "Yue..." bisiknya, suara seraknya kalah oleh deru hujan. Lin Yue tidak berbalik. Aroma parfum mahal Li Wei menusuk hidungnya, aroma yang dulu begitu memabukkan, kini hanya memicu mual. “Apa yang membawamu kemari, Wei?” suara Lin Yue datar, tanpa emosi. Li Wei menarik kursi, duduk di hadapannya. “Aku… aku ingin menjelaskan semuanya.” Lin Yue tertawa sinis. “Menjelaskan? Delapan tahun, Wei. Delapan tahun aku hidup dalam *bayangan*mu. Apa yang bisa kau jelaskan sekarang?” Li Wei menunduk. "Aku tahu aku salah. Aku... aku mencintaimu, Yue. Dulu, dan sekarang." Lin Yue akhirnya berbalik. Matanya yang dingin menatap Li Wei tajam. Di sana, di kedalaman matanya, Li Wei melihat sesuatu yang membuatnya bergidik. Bukan cinta. Bukan benci. Tapi… kehampaan yang mengerikan. "Cinta?" Lin Yue mengangkat sebelah alisnya. "Kau tahu, Wei? Dulu, aku menatap luka di dada, dan masih berharap itu tanda cinta. Bodoh, bukan?" Dia menyesap tehnya, menikmati raut kebingungan di wajah Li Wei. "Tapi kau salah, Wei. Luka ini bukan tanda cinta. Ini adalah peta." Li Wei mengerutkan kening. "Peta?" Lin Yue tersenyum tipis. "Ya. Peta menuju… kehancuranmu." Dia meletakkan cangkir tehnya. Suaranya pelan, namun menusuk tulang. “Kau tahu, Wei… selama ini aku tidak pernah melupakan *kata sandi* itu… kata sandi yang kau berikan padaku… kata sandi ke semua rekeningmu…” Hujan semakin deras. Di luar, lentera itu akhirnya padam. Dan *semuanya* itu karena… **AKULAH** putri dari keluarga yang kau hancurkan dulu.
You Might Also Like: Tutorial Skincare Lokal Untuk Kulit

Share on Facebook