Baiklah, inilah kisah pendek bergaya dracin, "Janji yang Menjadi Kutukan Manis": **Janji yang Menjadi Kutukan Manis** Dentingan piano mengalun lembut di Ballroom Grand Imperial. Gaun sutra berwarna zamrud yang dikenakan Li Wei berkilauan di bawah sorotan lampu kristal. Senyumnya *sempurna*, sebuah topeng kebahagiaan yang dilukis dengan presisi tinggi. Tak seorang pun, kecuali dirinya sendiri, tahu bahwa di balik senyum itu tersembunyi jurang kepedihan yang dalam. "Cantik sekali, Wei," bisik Xu Kai, pria yang berdiri di sampingnya, nada suaranya *manis* seperti madu yang telah basi. Aroma parfumnya, yang dulu membuat jantung Li Wei berdebar, kini hanya terasa seperti asap beracun yang menyesakkan. Dulu, Ballroom ini adalah saksi bisu janji-janji mereka. Janji untuk selamanya. Janji untuk saling menjaga. Janji yang kini terasa seperti *belati* yang menancap tepat di jantung Li Wei. Dua tahun lalu, Xu Kai adalah dunianya. Pelukannya adalah surga, senyumnya adalah matahari, dan kata-katanya adalah melodi terindah. Tapi, **dunia** itu runtuh ketika Li Wei menemukan foto-foto Xu Kai dengan wanita lain. Foto-foto yang tidak bisa dibantah, foto-foto yang menghancurkan hatinya menjadi jutaan keping. Pengkhianatan. Itu adalah kata yang terlalu ringan untuk menggambarkan apa yang Xu Kai lakukan. Namun, Li Wei tidak berteriak. Tidak menangis histeris. Tidak menuntut penjelasan. Dia memilih untuk *diam*. Dia memilih untuk merencanakan balas dendam yang jauh lebih **memuaskan** daripada sekadar pertumpahan darah. Dia menikahi Xu Kai. Pernikahan mereka adalah sebuah *sandiwara*. Sebuah pertunjukan mewah yang disaksikan oleh seluruh elit bisnis Shanghai. Setiap senyum, setiap sentuhan, setiap kata mesra yang diucapkannya adalah kalkulasi dingin untuk menghancurkan Xu Kai dari dalam. Dia mengambil alih perusahaan keluarga Xu Kai sedikit demi sedikit. Dengan kecerdasan dan ketenangannya, Li Wei merangkai strategi yang begitu rumit sehingga Xu Kai bahkan tidak menyadari bahwa dia sedang dijebak. Kini, di malam ulang tahun pernikahan mereka yang kedua, Li Wei akhirnya menyelesaikan rencananya. Perusahaan keluarga Xu Kai bangkrut. Reputasi Xu Kai hancur lebur. Semua yang dia miliki lenyap tak berbekas. Xu Kai menatap Li Wei dengan tatapan kosong. "Kenapa?" bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar di tengah hingar bingar pesta. Li Wei tersenyum. Senyum yang kini tidak lagi berusaha disembunyikan. Senyum yang *mematikan*. "Karena kamu menghancurkan hatiku, Xu Kai. Dan aku hanya membalasnya." Li Wei berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Xu Kai terhuyung-huyung di tengah Ballroom. Dia tahu, Xu Kai tidak akan pernah bisa melupakan malam ini. Dia tidak akan pernah bisa melupakan *penyesalan* yang akan menghantuinya seumur hidup. Balas dendamnya bukan tentang darah, tapi tentang penyesalan yang abadi. Ketika dia melangkah keluar dari Ballroom, Li Wei memandang langit malam yang kelam. Bulan bersinar redup, seolah ikut berduka atas cinta yang telah mati. Dan di sana, di tengah malam yang sunyi, Li Wei menyadari sesuatu yang mengerikan: cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama...
You Might Also Like: 60 Hertz Selling Its Exclusive 900Hp

Share on Facebook