Baiklah, ini dia kisah dracin tragis yang kamu minta, dengan sentuhan puitis dan misteri yang mendalam: **Kau Menyebut Namaku Pelan, dan Seluruh Dunia Berhenti Sejenak** Hujan gerimis menggantung di atap-atap Kota Terlarang, sama seperti air mata yang selalu tersembunyi di balik senyum indah Bai Lian dan Li Wei. Mereka tumbuh bersama, bagai dua tangkai bambu yang meliuk seirama diterpa angin. Lian, si putri sulung yang anggun dan penuh perhitungan, dan Wei, sang pangeran yang berjiwa bebas namun terikat takdir kerajaan. Lebih dari sekadar sepupu, mereka adalah sahabat, sekutu, bahkan mungkin... lebih. "Wei," bisik Lian di suatu malam yang sunyi, rembulan menjadi saksi bisu percakapan mereka di taman rahasia. "Janji kita, masih kau ingat?" Wei tersenyum, senyum yang selalu membuat jantung Lian berdebar tak karuan. "Bagaimana mungkin aku lupa, *Xiao Lian*? Kita akan membangun dunia sendiri, bebas dari intrik istana yang busuk ini." Namun, dunia mereka ternyata dibangun di atas pasir. Seiring berjalannya waktu, kekuasaan merayap di antara mereka bagai kabut beracun. Lian, yang seharusnya menjadi perisai bagi Wei, mulai menunjukkan ambisi yang tak terduga. Suara-suara sumbang berbisik di balik tirai sutra: Lian mendambakan takhta. "Kau berubah, Lian," kata Wei suatu malam, nadanya dingin seperti bilah pedang yang baru diasah. "Dulu, matamu memancarkan mimpi. Sekarang, hanya ada kekuasaan." Lian tertawa, tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. "Naif sekali kau, Wei. Mimpi hanya untuk orang bodoh. Kekuasaan adalah satu-satunya cara untuk *bertahan*." Di balik kata-kata itu, tersimpan rahasia yang lebih gelap dari malam itu sendiri. Sebuah rahasia yang melibatkan kematian ayah Wei, Kaisar terdahulu, dan keterlibatan Lian di dalamnya. Misteri itu perlahan terkuak. Surat-surat rahasia, kesaksian yang dibungkam, dan pengkhianatan yang tersembunyi di balik senyum palsu. Ternyata, Lian bukan hanya mendambakan takhta, tapi juga *terpaksa* melakukannya. Dia ditekan, diperalat oleh faksi-faksi istana yang haus darah. Jika tidak, Wei akan mati. "Kau berbohong!" teriak Wei, amarah membakar matanya. Dia menghunus pedang, siap menghabisi Lian. "Aku melindungi *dirimu*!" balas Lian, air mata mengalir di pipinya. "Kau tidak akan pernah mengerti!" Pertempuran pun tak terhindarkan. Pedang beradu, api amarah dan kesedihan menyala-nyala. Di tengah pertarungan itu, Lian mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya. Dia telah membuat perjanjian dengan iblis, mengorbankan dirinya demi keselamatan Wei. Ayahnya dibunuh karena Wei dianggap ancaman. Lian terpaksa berkhianat agar Wei tetap hidup. Wei tertegun. Dunianya runtuh. Pengkhianatan terburuk ternyata adalah pengorbanan terbesar. Dengan tangan gemetar, Wei menjatuhkan pedangnya. "Lalu... apa yang harus kulakukan?" bisiknya, suaranya hancur. Lian tersenyum, senyum yang tulus dan menyakitkan. "Balas dendamlah, Wei. Hancurkan mereka semua. Tapi... jangan pernah lupakan aku." Wei kemudian memimpin pemberontakan, membasmi semua yang terlibat dalam kematian ayahnya dan penderitaan Lian. Dia menjadi Kaisar, tapi hatinya tetap hancur. Di setiap langkah kekuasaan yang dia raih, dia selalu ingat pengorbanan Lian. Di sebuah malam yang sepi, di taman rahasia tempat mereka dulu bermimpi, Wei berdiri di bawah rembulan yang sama. Dia mencabut sebilah belati dan menatapnya. "Xiao Lian... akhirnya aku mengerti..." Dia menusuk dirinya sendiri. Napas terakhirnya keluar bersama bisikan: *“Semoga kita bertemu lagi… di kehidupan yang lain…”*
You Might Also Like: 76 Perbedaan Pelembab Skin Barrier

Share on Facebook