**Aku Mencintaimu di Setiap Dunia, dan Selalu Berakhir Sendirian** Hujan menyiram nisan marmer putih, setiap tetesnya adalah *air mata* yang tak terucap. Di sini, di tengah keheningan abadi, aku berdiri. Bukan sebagai manusia, melainkan bayangan; sisa jiwa yang terperangkap antara dunia hidup dan kematian. Aku kembali, bukan karena *dendam*, melainkan karena janji yang belum tertepati. Dulu, aku adalah Lin Wei. Sekarang, aku hanyalah _desiran angin_ yang tak bisa dirasakan, bisikan sunyi yang tak bisa didengar. Aku *mencintainya*, dengan segenap hati, dengan setiap tetes darah yang kini telah membeku menjadi debu. Tetapi aku mati, *bodohnya aku*, sebelum bisa mengucapkan kata-kata itu. Setiap malam, aku mengawasinya. Xiao Chen. Di bawah rembulan yang pucat, ia duduk di bangku taman, tempat kami biasa bertemu. Wajahnya *sendu*, mata nya menatap kosong ke depan. Ia masih memakai syal rajutan yang kubuat untuknya, bukti bisu dari cinta yang tak terbalas. Aku ingin menyentuhnya, menghapus air matanya, mengatakan bahwa aku ada di sini, bersamanya. Tetapi aku hanyalah roh, terikat oleh rantai tak terlihat yang memisahkan kami. Aku hanya bisa melihat, merasakan sakitnya, dan mendoakan *keberanian* untuknya. Aku telah mengembara di banyak dunia, mencari cara untuk berkomunikasi, untuk *akhirnya* bisa mengatakan yang sebenarnya. Di setiap kehidupan, di setiap reinkarnasi, cintaku padanya tetap abadi. Tetapi setiap kali, aku berakhir sendirian, dengan hati yang hancur dan penyesalan yang semakin mendalam. Ada satu malam, aku melihatnya berbicara dengan seorang wanita. Wanita itu cantik, dengan senyum yang hangat. *Rasa sakit* menghantamku seperti gelombang pasang. Apakah ia akhirnya menemukan kebahagiaan? Apakah ia akhirnya melupakan aku? Lalu, aku mendengar percakapan mereka. Wanita itu adalah adikku. Ia menceritakan tentang aku, tentang betapa aku mencintai Xiao Chen, tentang betapa aku menyesal tidak pernah mengatakannya. Ia menyerahkan sebuah surat kepadanya, surat yang kutulis sebelum aku meninggal, yang kusimpan di dalam kotak musik kesayanganku. Xiao Chen membacanya di bawah sinar bulan, air matanya mengalir deras. Ia memeluk surat itu erat-erat, seolah memelukku. Akhirnya, *akhirnya ia tahu*. Malam itu, aku merasa ringan. Beban di pundakku terangkat. Aku tidak membutuhkan balas dendam, aku tidak membutuhkan pengakuan. Aku hanya membutuhkan ia untuk *tahu*. Tugas ku telah selesai. Rasa sakit itu perlahan memudar, digantikan oleh perasaan *damai*. Aku bisa merasakan diriku menghilang, menjadi bagian dari semesta. Mungkin, inilah akhirnya. …dan mungkin, itulah senyum terakhirnya.
You Might Also Like: Skincare Viral Di Tiktok Beli Di Sini

Share on Facebook