Baiklah, inilah kisah puitis bergaya dracin klasik yang Anda minta: **Aku Menatap Langit yang Runtuh, dan Hanya Namamu Tersisa** Kabut lavender merayapi Lembah Mimpi, menyelimuti Pagoda Seribu Malam dengan kerudung perak. Di sana, di antara ranting-ranting pohon sakura yang gugur sebelum waktunya, aku berdiri. Dulu, tempat ini adalah taman kita, tempat tawa kita bergaung seperti lonceng angin di musim semi. Sekarang… *sunyi*. Langit runtuh. Bukan runtuh dalam artian harfiah, tentu saja. Tapi bayang-bayang panjang menggelayuti cakrawala, meremukkan harapan seperti kelopak mawar di bawah telapak kaki raksasa. Setiap keping awan yang pecah terasa seperti pecahan kenangan, tajam dan menyakitkan. Kau, dengan senyum selembut sutra dan mata seteduh danau di rembulan purnama, muncul dari balik kabut. Atau, setidaknya, *ilusi* tentangmu. Rambutmu menari mengikuti irama angin yang berbisik, gaunmu berkilauan seperti debu bintang. "Ling'er," desismu, suaramu seperti gema dari masa lampau yang hilang. "Apakah kau mengingatku?" Bagaimana mungkin aku lupa? Namamu terukir di setiap serat hatiku, terpatri di setiap hela napasku. Namun, setiap kali aku mencoba meraihmu, kau menghilang, lenyap seperti fatamorgana di padang pasir. Kita menari di bawah reruntuhan mimpi, langkah-langkah kita ringan dan tanpa bobot. Tanganmu menyentuh pipiku, sentuhan yang *nyata* namun terasa seperti ilusi. Air mata mengalir di pipiku, sungai-sungai penyesalan yang tak pernah kering. "Aku… aku terperangkap," bisikmu, suaramu pecah. "Antara dunia nyata dan dunia mimpi. Antara masa lalu dan masa depan. Antara… ada dan tiada." Aku berusaha meraihmu, menyatukan jemariku dengan jemarimu. Namun, tanganmu hanya terasa seperti angin sepoi-sepoi. Dan kemudian, **pengungkapan** itu datang, seberkas cahaya yang menyilaukan mata dan menghancurkan ilusi. Sebuah lukisan. Lukisan dirimu. Tertanggal *seratus tahun* yang lalu. Sebuah lukisan yang ditemukan di loteng Pagoda Seribu Malam, lukisan yang menggambarkan seorang putri yang menghilang tanpa jejak. Seorang putri yang dikenal hanya dengan nama… *Ling'er*. Kau bukanlah orang yang nyata. Kau adalah *roh*, terperangkap dalam lukisan, terikat pada tempat ini oleh cinta yang tak terbalas, cinta yang menungguku—reinkarnasi dari sang putri—selama berabad-abad. Keindahan kisah ini menghancurkanku. Mengetahui bahwa cintaku nyata, namun *tak mungkin*. Mengetahui bahwa kaulah yang kutunggu, namun takkan pernah kumiliki. Dan di tengah reruntuhan langit dan mimpi, aku mendengar bisikanmu, "Ingatlah aku, Ling'er… ***sampai akhir zaman***…"
You Might Also Like: Tutorial Moisturizer Gel Lokal Cepat

Share on Facebook