Oke, ini dia kisah Dracin pendek berjudul 'Pelukan yang Tak Pernah Dimaafkan': **Pelukan yang Tak Pernah Dimaafkan** Hujan abu menyelimuti kota Nanjiang. Aroma dupa dan teh pahit berpadu, menusuk hidung Lin Mei, gadis muda yang tumbuh besar di tengah keramaian pasar. Namun, hatinya terasa sepi, seperti kuil tua yang terlupakan. Mimpi-mimpi aneh menghantuinya setiap malam: pedang berlumuran darah, tatapan mata penuh pengkhianatan, dan suara tawa yang menusuk kalbu. Lin Mei bekerja sebagai pembuat lampion. Tangannya terampil membentuk kertas menjadi naga dan burung phoenix, tapi pikirannya selalu melayang ke masa lalu yang *bukan miliknya*. Ia merasa seperti hidup dalam bayang-bayang. Suatu hari, seorang pria bernama Zhang Wei datang ke tokonya. Ia seorang ahli kaligrafi terkenal, dengan mata setajam elang dan senyum misterius. Saat Zhang Wei memegang tangannya untuk memberikan salam, Lin Mei merasakan sengatan aneh, seolah kenangan **terlarang** teralirkan ke dalam dirinya. “Kamu… kau mengingatkanku pada seseorang,” bisik Zhang Wei, suaranya serak. Lin Mei terdiam. Dari tatapan Zhang Wei, ia melihat *kilasan* masa lalu: dirinya, di kehidupan sebelumnya, adalah seorang putri bernama Lian Hua. Ia jatuh cinta pada seorang jenderal muda yang gagah berani bernama… Zhang Wei. Namun, cinta itu dibalas dengan pengkhianatan. Zhang Wei, tergiur kekuasaan, membunuh Lian Hua dan merebut tahta. **KEBENARAN** memukul Lin Mei seperti gelombang tsunami. Rasa sakit, amarah, dan kesedihan bercampur aduk. Namun, di balik semua itu, ada tekad yang membara. Ia tidak akan membalas dendam dengan darah dan pedang. Balas dendamnya akan lebih halus, lebih menyakitkan. Lin Mei mulai mendekati Zhang Wei. Ia membiarkan pria itu jatuh cinta padanya, membawanya dalam pusaran nostalgia palsu. Ia mendengarkan semua keluh kesah Zhang Wei, sandiwara penyesalan yang ia mainkan dengan *begitu* meyakinkan. Akhirnya, tiba saatnya. Zhang Wei, yang dibutakan oleh cinta dan penyesalan, meminta Lin Mei untuk menikah dengannya. Lin Mei tersenyum manis, tapi di matanya berkilat tekad yang dingin. "Aku bersedia," jawab Lin Mei, lalu melanjutkan, "…untuk membantumu mendirikan sebuah yayasan, menggunakan semua kekayaanmu untuk membantu anak-anak yatim piatu." Zhang Wei terkejut. Ia membayangkan malam-malam penuh gairah, bukan kegiatan amal. Namun, ia terlalu mencintai Lin Mei untuk menolak. Ia menyerahkan seluruh kekayaannya, namanya tercoreng karena dianggap gila oleh para pengusaha dan politisi. Ia menjadi orang miskin, hidup dalam penyesalan abadi, *persis* seperti yang direncanakan Lin Mei. Lin Mei pergi dari kota Nanjiang, meninggalkan Zhang Wei yang hancur. Ia tidak pernah memaafkannya, dan tidak pernah akan. Di bawah naungan pohon sakura yang mekar, ia berbisik, "Mungkin, di kehidupan selanjutnya, kau akan tahu betapa *pedihnya* kehilangan segalanya." Seribu tahun lagi akan berlalu, dan **MUNGKIN** kita akan bertemu lagi, di bawah langit yang sama, dengan takdir yang sangat berbeda.
You Might Also Like: 7 Fakta Tafsir Disengat Gajah Sumatera

Share on Facebook