Baik, ini dia, kisah puitis ala Dracin klasik yang Anda minta: **Kau Menyalakan Lilin di Altar, dan Nyalanya Membentuk Wajahku** Kabut lavender merayap di Danau Bulan Sabit, menyelimuti Pagoda Giok dalam kerudung mimpi. Di sana, di altar marmer yang dingin, kau berdiri. Jari-jarimu sehalus pualam, memegang *lilin* merah darah. Nyala api menari, memantul di matamu yang **gelap**. Seperti dua lubang tanpa dasar yang menelan bintang-bintang. Saat kau menyalakannya, sesuatu berdesir dalam jiwaku. Sesuatu yang *purba*, yang tertidur selama berabad-abad. Asap cendana melukis bayangan di dinding. Bayangan **kita**. Kita berdansa di bawah rembulan purnama, di taman-taman terlarang yang dipenuhi bunga seruni salju. Tawa kita bagai lonceng angin yang berdering di musim semi. Tapi, musim semi itu... apakah benar terjadi? Kau menuangkan teh ke dalam cangkir porselen yang rapuh. Uapnya membentuk wajah. Wajahku. Wajah yang sama yang kau lihat di setiap pantulan air, di setiap kelopak bunga persik yang gugur. Apakah aku hanya bayangan dari ingatanmu? Atau kau, *hanya* mimpi yang terlalu indah untuk menjadi nyata? Aku adalah lukisan di dinding usang, yang kau rawat setiap malam dengan tetesan air mata. Aku adalah melodi yang hilang dalam harpa berdebu, yang kau coba temukan kembali dengan *jari-jari* gemetar. Aku adalah aroma dupa yang menyelimuti kuil sunyi, yang kau hirup dalam-dalam, berharap menemukan **keabadian**. Waktu membeku di antara kita. Detik demi detik terasa seperti *abad*. Kau mendekat, sentuhanmu bagai hembusan angin di sayap kupu-kupu. Bibirmu mengucapkan kata-kata yang tak terucap, janji-janji yang tak terpenuhi. Dan kemudian... Lilin itu meleleh. Nyalanya mengecil, lalu padam. Gelap. *Hanya* gelap. Wajahku menghilang. Wajahmu tertunduk. Dan di tengah kesunyian yang **memilukan**, aku melihatnya. Di balik punggungmu, tercetak jelas di altar marmer: *namanya*. Bukan namaku. Nama seorang perempuan lain, yang mencintai dan dicintai, jauh sebelum aku hadir dalam mimpimu. Aku hanyalah pantulan, *gema*, dari cinta yang telah lama pergi. Aku hanyalah lilin yang kau nyalakan, untuk mengenang wajah yang tak akan pernah bisa kau lupakan. Misteri terpecahkan. Tapi *keindahan* itu... justru menusuk jantungku lebih dalam. "Dulu, aku berjanji akan menunggumu di bawah pohon sakura yang mekar..."
You Might Also Like: Drama Populer Tangisan Yang Menjadi

Share on Facebook