Baik, inilah kisah Dracin dengan sentuhan takdir, reinkarnasi, dan dendam yang dilandasi pengampunan: **Aku Mencintaimu Bahkan Setelah Cinta Menjadi Alasan Perang** **Bab 1: Bunga Persik di Lembah Terlarang** Seratus tahun telah berlalu sejak tanah *Lembah Terlarang* diwarnai darah. Seratus tahun sejak janji diucapkan di bawah pohon persik yang kini bisu. Seratus tahun sejak *dia* mengkhianati *aku*. Bai Lian, seorang gadis muda dari desa terpencil, sering bermimpi tentang lembah itu. Mimpi tentang pedang yang berkilauan di bawah rembulan, jeritan kesakitan, dan sepasang mata yang begitu *indah* namun penuh amarah. Mimpi-mimpi itu terasa begitu nyata, begitu *dekat*, hingga dia merasa seperti pernah hidup di sana. Suatu musim semi, Bai Lian tersesat saat mencari tanaman obat. Dia tiba di sebuah lembah yang terlarang bagi penduduk desa. Di sana, berdiri sebatang pohon persik yang sedang mekar penuh. Bunganya berjatuhan seperti salju merah muda, menyelimuti tanah dengan keindahan yang menyesakkan. Saat Bai Lian menyentuh batang pohon itu, sebuah suara berbisik di benaknya, *“Lian…”* **Bab 2: Sentuhan Masa Lalu** Di kota kekaisaran, hiduplah seorang pelukis muda bernama Zhao Ming. Lukisannya dipenuhi dengan bunga persik, dan seringkali, dia melukis seorang wanita dengan gaun merah darah, memegang pedang yang sama. Zhao Ming tidak mengerti mengapa dia begitu terobsesi dengan sosok ini. Dia hanya tahu, *dia* harus melukisnya. Suatu hari, seorang pedagang membawa gulungan lukisan dari desa terpencil. Zhao Ming tertegun. Lukisan itu adalah potret Lembah Terlarang. Di bawah pohon persik, tergambar seorang wanita dengan gaun putih, memegang seruling. Zhao Ming merasa seperti *dia* mengenali wanita itu. *Dia* mengenali melodi yang terpancar dari seruling itu. *Dia* mengenali cinta yang begitu kuat, hingga melampaui waktu. *“Siapa dia?”* tanya Zhao Ming dengan suara bergetar. Pedagang itu hanya mengangkat bahu. “Hanya legenda, Tuan Muda. Legenda tentang seorang putri dan seorang jenderal yang saling mencintai, namun cinta mereka menghancurkan seluruh kerajaan.” **Bab 3: Fragmen Ingatan** Bai Lian dan Zhao Ming bertemu secara kebetulan di pasar malam. Saat mata mereka bertemu, dunia seakan berhenti berputar. Ada sesuatu yang familier, sesuatu yang *menarik* mereka satu sama lain. Semakin sering mereka bertemu, semakin banyak fragmen ingatan yang muncul. Bai Lian mengingat dirinya sebagai Putri Lian, pewaris takhta yang jatuh cinta pada Jenderal Zhao, seorang pahlawan perang yang gagah berani. Zhao Ming mengingat dirinya sebagai Jenderal Zhao, yang terpaksa mengkhianati Putri Lian demi menyelamatkan rakyatnya dari kehancuran. *“Aku… aku membunuhmu,”* bisik Zhao Ming, air mata mengalir di pipinya. *“Tidak,”* jawab Bai Lian, tangannya gemetar menyentuh wajah Zhao Ming. *“Kau menyelamatkanku. Kau menyelamatkan kita semua.”* **Bab 4: Kebenaran yang Terungkap** Kebenaran pahit mulai terungkap. Jenderal Zhao tidak mengkhianati Putri Lian karena keserakahan atau ambisi. Dia melakukannya atas permintaan *ibunda* Putri Lian sendiri, seorang wanita kejam yang haus kekuasaan dan merencanakan perang untuk memperluas kerajaannya. Jenderal Zhao terpaksa memilih antara cintanya pada Putri Lian dan keselamatan rakyatnya. Dia memilih yang terakhir. Dia membunuh Putri Lian untuk menghentikan perang, dan kemudian, bunuh diri karena tidak sanggup hidup tanpa dirinya. *“Ibuku… dialah yang menghancurkan kita,”* gumam Bai Lian, dadanya sesak oleh rasa sakit. **Bab 5: Balas Dendam dalam Keheningan** Bai Lian dan Zhao Ming memiliki kekuatan untuk membalas dendam. Mereka bisa mengungkap kejahatan ibu Putri Lian, yang kini telah bereinkarnasi menjadi seorang wanita kaya dan berpengaruh. Mereka bisa membalas dendam atas semua penderitaan yang telah mereka alami. Namun, mereka memilih jalan yang berbeda. Mereka memilih untuk tidak membiarkan kebencian menguasai hati mereka. Mereka memilih untuk mengampuni. Bai Lian mendekati wanita itu dan memberikan seikat bunga persik. *“Ini untukmu,”* katanya dengan senyum lembut. *“Semoga kau menemukan kedamaian.”* Wanita itu menatap Bai Lian dengan tatapan kosong. Kemudian, dia mulai menangis. Tangisan yang *penuh penyesalan*. Tangisan yang menyakitkan jiwa. Balas dendam yang paling *menusuk* bukanlah kemarahan, melainkan keheningan dan pengampunan. **Epilog** Bai Lian dan Zhao Ming kembali ke Lembah Terlarang. Mereka duduk di bawah pohon persik yang sedang mekar. Mereka tahu, cinta mereka telah melampaui waktu dan kematian. Mereka tahu, *mereka akan selalu menemukan jalan untuk kembali satu sama lain*. Saat mentari terbenam, Bai Lian berbisik, “Di kehidupan selanjutnya… *janjikan padaku…*”
You Might Also Like: The Economic Times Presents Beneath

Share on Facebook