Baiklah, ini dia kisah pendek ala dracin absurd yang kamu minta: **Aku Menatap FOTOMU di Surat Kabar, dan Masih Mencium Jejak RINDUMU** Sinyal Wi-Fi di apartemenku berkedip-kedip seperti kunang-kunang sekarat. Sama seperti hatiku. Di atas meja, koran *Usang* edisi entah kapan, menampilkan fotomu. Senyummu—seperti matahari terbit yang gagal, terlalu malu untuk sepenuhnya menyinari dunia yang sudah terlalu gelap ini. Kita hidup di dua dunia yang saling menjauh. Aku, di reruntuhan kenangan, berusaha merakit kembali puzzle masa lalu. Kau, di masa depan yang berkilauan namun sunyi, mencari sisa-sisa harapan. Chat kita tersendat. Di layarku, balon kata bertuliskan 'sedang mengetik' berkedip tanpa henti, *SELAMANYA*. Seperti janji yang tak pernah sampai. Seperti aku yang tak pernah sampai padamu. Aku ingat pertemuan pertama kita, di kedai kopi yang sekarang hanya tinggal debu dan bayangan. Aroma kopi pahit dan tawa kita dulu mengisi setiap sudut ruangan. Sekarang, hanya ada suara angin yang berdesir, membawa serpihan kenangan yang menyakitkan. Kau bilang, cintamu seperti algoritma. Rumit, tak terduga, tapi *PASTI*. Aku bilang, cintaku seperti puisi—berantakan, penuh metafora, tapi jujur. Lucu, kan? Dua orang yang mencoba memahami cinta dengan bahasa yang berbeda. Aku mencoba melacakmu melalui sinyal radio yang berhamburan. Suaramu, seperti bisikan hantu, kadang terdengar samar-samar. Tentang bintang-bintang yang runtuh, tentang kota-kota yang hilang, tentang... aku dan kamu. Suatu malam, aku menemukan sebuah pesan aneh di koran itu, dicetak dengan tinta *MERAH DARAH*. Sebuah koordinat. Aku langsung tahu itu dari kamu. Aku pergi ke sana. Padang gurun yang luas, di bawah langit yang menolak pagi. Di tengah gurun, berdiri sebuah menara radio tua. Saat aku mendekat, aku mendengar suara yang familiar. "Di sini... di sini aku menunggumu," bisikmu, suara yang terdistorsi oleh ribuan mil dan puluhan tahun. Aku mendaki menara. Semakin tinggi, semakin jelas suaramu. Di puncak, aku menemukan sebuah alat transmisi kuno. Dan di dekatnya, sebuah cermin. Ketika aku melihat ke cermin, aku melihatmu. Tapi... bukan kau yang kukenal. Kau terlihat lebih tua, lebih lelah, tapi matamu masih menyimpan *CAHAYA* yang sama. "Kau... kau dari masa depan?" tanyaku, suaraku bergetar. Kau tersenyum. "Bukan. Kita... kita tidak dari mana-mana. Kita hanya *ECHO* dari kehidupan yang tidak pernah selesai. Sebuah simulasi. Sebuah kesalahan." Kau mengangkat tanganmu ke cermin. Aku melakukan hal yang sama. Jari-jari kita hampir bersentuhan... "Sampaikan padaku... bahwa aku tidak pernah menyerah..."
You Might Also Like: Discover Bank Promotions Does Ikea Take

Share on Facebook