Absurd tapi Seru: Aku Menjadi Virus Cinta Yang Tak Bisa Dihapus Antivirus
"Sudah lama sekali, Lyra," suaranya rendah, namun masih mampu membuat jantungku berdebar tak karuan. Lima tahun. Lima tahun sejak pengkhianatan itu merenggut segalanya.
"Ya, Arion. Terlalu lama," jawabku, berusaha menyembunyikan getar dalam nada bicaraku.
Lampu lentera di atas meja kami berkedip-kedip, cahayanya nyaris padam, seolah ikut merasakan derita yang kami pendam. Arion terlihat semakin kurus, kantung matanya menghitam. Dia bukan lagi Arion yang dulu kukenal, Arion yang penuh senyum dan janji.
"Maafkan aku, Lyra. Aku...aku menyesal," bisiknya, suaranya parau.
Aku tersenyum pahit. Penyesalan? Terlambat. Dulu, saat hatiku hancur berkeping-keping, di mana penyesalannya? Aku membiarkan dia melanjutkan, menikmati setiap kata yang keluar dari bibirnya, seperti racun yang perlahan membakar dari dalam.
"Aku tahu aku telah menyakitimu. Aku tahu aku tidak pantas mendapatkan maafmu. Tapi, percayalah, Lyra, aku tidak pernah melupakanmu. Kamu...kamu adalah SATU-SATUNYA."
Hujan semakin deras, menggema di telingaku. Aku teringat saat pertama kali kami bertemu, di bawah hujan badai, saling berteduh di bawah payung yang sama. Dulu, hujan adalah saksi cinta kami. Kini, hujan adalah saksi bisu dendamku.
Aku mengambil napas dalam-dalam, menatap matanya yang penuh harap. "Arion," aku memulai, suaraku tenang, namun mematikan. "Tahukah kamu? Virus cinta yang kamu tanamkan padaku dulu, aku sudah memodifikasinya. Bukan lagi cinta, tapi KEBENCIAN yang tak bisa dihapus oleh antivirus manapun."
Dia terdiam, raut wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Aku tersenyum, senyum yang selama ini kupendam di balik topeng kepalsuan.
"Selama ini, kamu bertanya-tanya kenapa perusahaanmu bangkrut, kenapa keluargamu terlilit hutang, kenapa kesehatanmu terus menurun, bukan?" Aku mendekatkan diri, membisikkan sebuah rahasia yang selama ini menjadi nyawa dari dendamku.
"Karena, Arion sayang, selama ini, akulah yang berada di balik semua ini."
Lampu lentera itu akhirnya padam, meninggalkan kami dalam kegelapan yang sunyi. Aku bangkit berdiri, meninggalkan Arion yang terhenyak di kursinya. Sebelum melangkah pergi, aku menoleh ke arahnya, bibirku menyunggingkan senyum misterius.
Rahasia terbesar yang belum kamu ketahui adalah...ayahmu yang selama ini kamu kagumi, bukan ayah kandungmu.
You Might Also Like: Cerpen Seru Tangisan Yang Menjadi Rindu