TOP! Tangisan Yang Mengalir Tanpa Sesal
Tangisan yang Mengalir Tanpa Sesal
Malam menggantung berat di atas Paviliun Jade, seberat dosa-dosa yang dipendam bertahun-tahun. Salju turun tanpa henti, menutupi segalanya dengan lapisan putih yang menipu. Di tengahnya, darah memancar merah, kontras yang mengerikan di atas kesucian yang dipaksakan.
Cahaya redup dari lentera-lentera kertas menari-nari, seolah ikut berduka atas takdir yang akan segera terungkap. Aroma dupa cendana berpadu dengan bau anyir besi, menciptakan simfoni maut yang memabukkan.
Xiao Zhen, dengan jubah merahnya yang ternoda, berdiri tegak bagai patung batu. Di hadapannya, berlututlah Li Wei, pria yang dicintainya, pria yang dibencinya. Wajah tampannya kini pucat pasi, dihiasi luka dan ketakutan yang teramat dalam.
"Kau… kau tahu?" bisik Li Wei, suaranya serak.
Xiao Zhen tidak menjawab. Matanya, sedalam jurang yang gelap, memancarkan amarah dan kesedihan yang tak terkatakan. DULU, mata itu memancarkan cinta, harapan, dan impian akan masa depan yang indah. Sekarang? Hanya ada gema kehancuran.
Ingatan berkelebat, bagai kilatan petir di tengah badai salju. Malam itu, dua puluh tahun lalu. Pembantaian keluarganya. Janji setia yang dikhianati. Rahasia yang terkubur dalam-dalam.
"Dua puluh tahun, Li Wei," ucap Xiao Zhen, suaranya dingin bagai es. "Dua puluh tahun aku menunggu. Dua puluh tahun aku merencanakan."
Li Wei menggeleng lemah. "Aku… aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."
Kebohongan. Bau kebohongan menyengat hidung Xiao Zhen, lebih tajam dari bau darah di salju.
"Kau tidak tahu?" Xiao Zhen tertawa hambar, tawa tanpa kebahagiaan. "Ayahmu. Dia yang memerintahkan semuanya. Dia yang membunuh keluargaku. DAN KAU MENYAKSIKANNYA!"
Air mata mengalir di pipi Li Wei, bercampur dengan darah dari luka di dahinya. "Itu… itu bohong! Ayahku tidak mungkin melakukan itu!"
Xiao Zhen mengangkat sebilah pedang. Pedang itu, pusaka keluarganya, kini akan digunakan untuk membalas dendam. Cahaya lentera menari di bilah tajamnya, memantulkan wajah Li Wei yang penuh ketakutan.
"Kau mencintaiku?" tanya Xiao Zhen, nadanya mencemooh.
"Lebih dari hidupku sendiri!" jawab Li Wei, tanpa ragu.
Xiao Zhen mendekat, pedang terangkat tinggi. "Kalau begitu, buktikan."
Dia mengayunkan pedang. Bukan ke arah Li Wei. Melainkan ke arah dupa cendana yang membara. Asap tebal mengepul, memenuhi ruangan.
"Janji di atas abu," bisik Xiao Zhen. "Janji darah. Janji yang akan kita pegang sampai akhir."
Di tengah kepulan asap, Xiao Zhen menjatuhkan sebuah piala berisi racun ke hadapan Li Wei. "Minumlah. Jika kau benar-benar mencintaiku, kau akan meminumnya. Dan kita akan bersama di alam baka."
Li Wei menatap piala itu, lalu menatap Xiao Zhen. Di matanya, dia melihat bukan hanya kebencian, tapi juga… harapan. Harapan agar dia membuktikan cintanya.
Tanpa ragu, Li Wei mengambil piala itu dan meneguk isinya sampai habis.
Senyum tipis menghiasi bibir Xiao Zhen saat Li Wei jatuh terkapar. Balas dendamnya telah selesai. Hatinya yang terluka akhirnya menemukan kedamaian. Tapi kedamaian macam apa ini? Kedamaian yang dibangun di atas mayat orang yang dicintainya?
Dia berbalik, meninggalkan Paviliun Jade yang berlumuran darah dan air mata. Meninggalkan janji di atas abu. Meninggalkan SEMUANYA.
Di kegelapan malam, suara langkahnya menghilang, meninggalkan keheningan yang mencekam.
Satu kalimat menggantung: Di balik senyumnya yang tenang, tersembunyi hati yang akan membalas dendam sekali lagi, kepada dirinya sendiri.
You Might Also Like: Cara Memilih Moisturizer Untuk Kulit