Ini Baru Drama! Aku Menjadi Memo Di HP-nya: "Jangan Hubungi Lagi"
Aku Menjadi Memo di HP-nya: "Jangan Hubungi Lagi"
Angin musim semi berhembus pelan, membawa aroma mei hua yang memabukkan. Di taman kota Shanghai, aku – Jiang Meili – duduk termenung. Bukan sebagai Jiang Meili yang berusia 23 tahun, seorang mahasiswa arsitektur, melainkan sebagai bayangan masa lalu yang samar. Mimpi-mimpi aneh tentang taman bunga lotus, pedang yang berlumuran darah, dan janji yang dilanggar terus menghantuiku.
Setiap kali mataku menatap wajah Li Wei, CEO muda yang dingin dan karismatik itu, jantungku berdebar keras. Dia adalah pria yang sering kulihat di kafe tempatku bekerja paruh waktu. Ada sesuatu yang familiar, namun asing. Seolah jiwa ini pernah mengenalnya, namun ingatan itu terbungkus kabut tebal.
Suatu hari, takdir mempertemukan kami secara lebih dekat. Aku tidak sengaja menabraknya hingga ponselnya terjatuh. Layarnya retak. Saat aku membungkuk untuk mengambilnya, mataku terpaku pada sebuah memo di layar: "Jangan Hubungi Lagi."
Nama kontak di sebelahnya? Jiang Meili.
Duniaku runtuh.
Malam itu, mimpi burukku semakin jelas. Aku melihat diriku, seratus tahun yang lalu, sebagai selir kesayangan seorang jenderal perang bernama Li Wei. Kami saling mencintai dengan gila, namun cinta kami dikutuk oleh dosa dan pengkhianatan. Aku dijebak atas tuduhan palsu dan dihukum mati. Sebelum menghembuskan napas terakhir, aku bersumpah bahwa dia akan menyesali perbuatannya. Dia bersumpah akan mencariku di setiap kehidupan.
Seratus tahun.
Reinkarnasi.
Memo itu.
Semuanya terhubung.
Aku mulai mengumpulkan petunjuk. Setiap kali Li Wei berada di dekatku, bunga lotus merah di taman kota bermekaran seolah dipanggil oleh kehadiran kami. Suara lirihnya, meski nada bicaranya dingin dan datar, terdengar seperti melodi yang pernah kunyanyikan untuknya di kehidupan lampau. Aku menemukan lukisan diriku, bukan sebagai Jiang Meili, melainkan sebagai selir Li Wei, tersembunyi di gudang sebuah museum.
Kebenaran pahit terkuak perlahan. Li Wei tidak mengkhianatiku. Dia mencoba menyelamatkanku. Tapi dia terlambat. Seseorang, musuh politiknya, menjebak kami berdua. Sum pahku, sumpah balas dendam seorang wanita yang patah hati, membutakan mataku akan kebenaran.
Aku tidak ingin balas dendam. Aku hanya ingin dia tahu. Aku ingin dia tahu bahwa aku mengingat.
Aku mendekatinya di sebuah acara amal. Dia menatapku dengan mata setajam es. Aku hanya tersenyum tipis, lalu berkata, "Tahukah kamu, Tuan Li, bunga lotus merah sangat indah saat mekar di malam hari."
Dia terdiam. Matanya berkilat seolah mengenali sesuatu.
Aku berbalik dan pergi, meninggalkan dia di sana, membeku dalam keheningan masa lalu. Aku tidak akan membalas dendam dengan amarah. Aku membalas dendam dengan keheningan dan pengampunan. Lebih menyakitkan daripada pedang. Lebih membekas daripada api.
Aku mengubah nomorku. Menghilang dari pandangannya.
Beberapa minggu kemudian, aku melihatnya di taman kota, berdiri di depan pohon mei hua. Dia memegang setangkai bunga lotus merah. Dia menatapku. Air mata mengalir di pipinya.
Dia mendekatiku. Dia membuka mulutnya, seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi tidak ada suara yang keluar.
Dia tahu.
Aku berbalik dan berjalan pergi.
"Bunga yang jatuh akan mekar kembali… di kehidupan selanjutnya."
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Tafsir Menyelamatkan