**Rahasia yang Tak Lagi Menyakitkan** Kabut menggantung berat di lereng Gunung Cangshan, menyelimuti kuil kuno bagaikan *kerudung kematian*. Lorong-lorong istana terjalin dalam bisu, hanya derap kaki teredam yang memecah keheningan. Xiao Zhan, sosok yang lama dianggap gugur dalam pertempuran di perbatasan, kembali. Bukan sebagai pahlawan, melainkan bayangan yang menghantui. Wajahnya, yang dulu penuh tawa, kini dihiasi guratan pahit pengalaman. Matanya, sekelam obsidian, memancarkan misteri yang lebih dalam dari sumur tanpa dasar. Dia berdiri di hadapan Putri Lian, wanita yang dulu dijanjikannya setia abadi. "Putri," bisik Xiao Zhan, suaranya serak bagai gesekan batu. "Apakah kau masih mengingat janji di bawah pohon persik yang mekar sepuluh tahun lalu?" Lian, yang kini bergelar Permaisuri, menatapnya dengan sorot mata yang sulit dibaca. Kebencian? Kerinduan? Atau... pengakuan? "Xiao Zhan," jawabnya, suaranya lembut namun dingin bagai es. "Kau kembali setelah sekian lama. Apa yang kau cari? Bukankah seharusnya kau sudah tenang di alam baka?" Xiao Zhan tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke matanya. "Ketenangan? Bagaimana mungkin aku bisa tenang ketika kebenaran masih terkubur dalam kabut dusta?" Dia melangkah mendekat, setiap langkahnya menggema dalam keheningan lorong. "Siapa yang memerintahkan pembantaian desa nelayan di selatan? Siapa yang mengkhianatiku di medan perang, membiarkanku terjerembap dalam jebakan musuh?" Lian terdiam. Kabut di luar semakin menebal, menyembunyikan puncak gunung dari pandangan. "Kau tahu, Lian. Dulu aku percaya pada kebaikanmu, pada cintamu. Tapi aku belajar di neraka bahwa *kepercayaan adalah pedang bermata dua*." "Cukup!" desis Lian, nada suaranya mulai meninggi. "Kau tahu aku tidak bersalah!" Xiao Zhan berhenti tepat di hadapannya. Dia mengangkat tangan, menyentuh pipi Lian dengan lembut. Sentuhan yang dulu terasa begitu familiar, kini terasa asing dan menakutkan. "Benarkah? Atau kau hanyalah *wayang* yang dimainkan oleh kekuatan yang lebih besar?" bisiknya. Lian menepis tangannya. "Kekuatan apa yang kau bicarakan?" Xiao Zhan tertawa pelan, tawa yang terdengar seperti ratapan angin di antara celah batu. "Kekuatan yang kau genggam, Lian. Kekuatan yang kau sembunyikan di balik wajah lugu dan hati yang 'terluka'." Lian menatapnya, matanya berkilat marah. "Kau... kau berani menuduhku?!" "Bukan tuduhan, Lian. Melainkan pengakuan. Akulah yang seharusnya mati, bukan? Akulah yang seharusnya menjadi tumbal dalam rencanamu. Namun aku kembali, membawa *KUNCI* kebenaran yang selama ini kau sembunyikan." Dia mengeluarkan sebuah jepit rambut giok dari balik jubahnya – jepit rambut yang sama dengan yang dia berikan padanya sepuluh tahun lalu, namun dengan ukiran tersembunyi: sebuah perintah rahasia untuk membantai desa nelayan. Lian terhuyung mundur, wajahnya pucat pasi. Dia mencoba menyangkal, namun kata-kata itu tercekat di tenggorokannya. "Kau... kau tahu?" bisiknya, nyaris tak terdengar. Xiao Zhan mengangguk. "Aku tahu *SEGALANYA*. Bahwa kaulah dalang di balik semua ini. Bahwa kau tidak pernah mencintaiku, melainkan menggunakan aku sebagai pion dalam permainanmu." Dia menatap Lian untuk terakhir kalinya, tatapan yang dipenuhi kekecewaan dan... kasihan. "Kematianku akan menyelamatkanmu, Lian. Hidupmu yang sekarang adalah penebusan. Tapi ketahuilah, rasa bersalah yang kau pendam akan menjadi penjara terbesarmu. Dan *SEKARANG, PERMAINAN DIMULAI*."
You Might Also Like: Alasan Pelembab Gel Ringan Tanpa
Share on Facebook