## Bayangan yang Menggenggam Tanganku Dalam Mimpi Hujan jatuh di atas pusara. Bukan rintik biasa, melainkan tirai air yang membungkus nisan pualam dengan selubung sunyi. Dinginnya meresap ke tulang, serupa dengan perasaan yang selalu menggerogoti hatiku sejak malam itu. Malam ketika *dia* pergi. Setiap malam, aku melihatnya. Bukan wujud utuh, melainkan *bayangan* yang samar, seolah lukisan yang belum selesai. Bayangan yang selalu menjangkauku, menggenggam tanganku dalam mimpi. Genggaman yang dingin, namun terasa familier. Genggaman yang membuatku terjaga dengan air mata yang mengering di pipi. Orang bilang, arwah gentayangan karena dendam. Ada urusan yang belum selesai. Aku pun meyakini itu. Dulu. Aku pikir dia kembali untuk membalas pengkhianatan, untuk menuntut keadilan atas kematiannya yang **misterius**. Malam-malamku dipenuhi pencarian. Mencari petunjuk, menelusuri jejak. Setiap langkah membawaku semakin dalam ke labirin rahasia yang kusut dan berdebu. Aku menemukan surat-surat yang disembunyikan, foto-foto yang dibakar sebagian, dan bisikan-bisikan *mengerikan* tentang keserakahan dan ambisi. Namun, semakin dalam aku menggali, semakin jauh aku dari rasa *MARAH*. Justru, aku menemukan kerinduan. Kerinduan pada senyumnya yang tulus, pada tawanya yang renyah, pada sentuhannya yang lembut. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri: benarkah dia kembali untuk membalas dendam? Atau... adakah sesuatu yang lain? Malam itu, hujan kembali turun. Kali ini, aku merasakan kehadirannya lebih kuat dari sebelumnya. Bayangannya tidak lagi samar. Aku bisa melihat matanya. Mata yang penuh kesedihan, bukan amarah. Dia membimbingku ke sebuah kotak tua. Kotak yang terkunci rapat. Dengan tangan gemetar, aku membukanya. Di dalamnya, bukan bukti pengkhianatan, melainkan sebuah buku harian. Di halaman-halaman usang itu, aku menemukan kebenaran. Kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik bayang-bayang dusta. Dia tidak dikhianati. Dia tidak dibunuh. Dia hanya... *kelelahan*. Kelelahan menanggung beban rahasia keluarga yang begitu berat. Dia ingin pergi, bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk menemukan kedamaian. Dia ingin membebaskan diri dari belenggu masa lalu. Dan kini, dia kembali, bukan untuk menuntut keadilan, melainkan untuk memberiku kebebasan. Untuk memberiku **IZIN** untuk melanjutkan hidup. Aku menutup buku harian itu. Air mataku mengalir deras. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kelegaan. Aku akhirnya mengerti. Aku akhirnya bisa melepaskannya. Bayangannya perlahan memudar, seiring dengan meredanya hujan. Genggamannya di tanganku terasa semakin lemah, namun penuh kehangatan. Dia berbisik, "Terima kasih..." Dan saat mentari pagi mulai menyingsing, aku merasakan kedamaian yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku tahu, dia telah pergi. Dia telah menemukan kedamaian yang selama ini ia cari. Aku memandang ke arah makamnya, dan samar-samar, aku melihat... ... *ada sebuah senyum di sana*.
You Might Also Like: 0895403292432 Jual Skincare Non
Share on Facebook