Tentu, ini dia kisah dracin intens dengan permintaan Anda: **Kau Memeluk Buku yang Kuberikan, Seolah di Dalamnya Ada Perasaanku** Malam itu, salju turun bagai kapas yang tercabik-cabik. Di tengah hamparan putih yang membeku, darah memerah bagai bunga mawar yang bersemi di musim dingin. Wangi dupa menyengat, bercampur aroma anyir yang menyesakkan dada. Di kuil tua yang remuk oleh waktu, dua sosok berdiri. Dia, Lin Mei, menggigil bukan hanya karena dingin. Gaun sutra merahnya, yang dulu melambangkan kemewahan, kini basah oleh salju dan… cairan yang lebih gelap. Di tangannya, terhimpit erat sebuah buku – *karya Lao She yang kum berikan bertahun-tahun lalu. Kau memeluk buku yang kuberikan, seolah di dalamnya ada perasaanku.* Di hadapannya, berdiri Zhang Wei. Sorot matanya bagai bara yang membara di balik topeng ketenangan. Wajahnya, yang dulu selalu membuat Lin Mei terpana, kini keras dan asing. Dulu, Lin Mei melihat ketulusan di sana. Sekarang? Hanya ada jurang yang tak terukur. "Kau…" suara Lin Mei bergetar, "Kau tahu?" Zhang Wei mengangguk perlahan. "Aku tahu segalanya, Lin Mei. Semua kebohonganmu. Semua pengkhianatanmu." Lidah Lin Mei kelu. Rahasia itu… bagaimana bisa Zhang Wei mengetahuinya? Bertahun-tahun ia menyembunyikannya di balik senyum palsu dan dekapan mesra. Bertahun-tahun ia mengira bahwa Zhang Wei akan selamanya menjadi boneka di tangannya. *Bodohnya aku!* Malam itu, malam pembantaian keluarga Zhang sepuluh tahun lalu, terungkit kembali. Lin Mei, atas perintah ayahnya, Jenderal Lin yang haus kekuasaan, telah meracuni anggur yang diminum oleh seluruh keluarga Zhang. Hanya Zhang Wei, yang saat itu masih remaja, selamat karena ia sedang berada di luar kota. "Ayahku… dia hanya ingin mengamankan posisinya," Lin Mei mencoba membela diri, meski suaranya terdengar hampa. "Dia… dia melakukannya demi aku." Zhang Wei tertawa sinis. "Demi kau? Atau demi ambisi gila ayahmu? Kau kira aku percaya?" Air mata menetes di antara kepulan dupa. Lin Mei melihat kehancuran di mata Zhang Wei. Kehancuran yang disebabkan olehnya. *Aku menghancurkannya.* "Aku… aku mencintaimu, Zhang Wei. Dulu dan sekarang," bisiknya, putus asa. "Cinta?" Zhang Wei meludah ke salju. "Cinta macam apa yang merenggut nyawa seluruh keluargaku? Cinta macam apa yang membuatmu bersekongkol dengan iblis?" Di bawah kaki Zhang Wei, terhampar abu dari surat-surat cinta yang pernah ditulis Lin Mei untuknya. Janji-janji manis yang kini terasa seperti kutukan. Di atas abu itu, Zhang Wei bersumpah. Sumpah yang diucapkannya dengan suara tenang namun mematikan. "Dulu, aku berjanji akan melindungimu. Sekarang, aku bersumpah akan membalas dendam. Bukan dengan kekerasan, bukan dengan amarah yang membabi buta. Tapi dengan cara yang akan membuatmu menderita seumur hidupmu." Zhang Wei mendekat. Di tangannya, tergenggam sebuah cangkir porselen putih. Ia menuangkan cairan berwarna bening ke dalamnya. "Minumlah, Lin Mei. Ini adalah teh termahal yang pernah ada. Teh yang akan membawamu ke alam baka. Teh yang akan membungkam semua kebohonganmu." Lin Mei meraih cangkir itu dengan tangan gemetar. Ia menatap Zhang Wei sekali lagi. Di matanya, ia melihat kehampaan. Tak ada lagi cinta. Tak ada lagi amarah. Hanya ada… ketidakpedulian yang mematikan. Ia meneguk teh itu dalam sekali teguk. Rasanya manis dan pahit, seperti cinta mereka. Zhang Wei menatap tubuh Lin Mei yang merosot ke tanah tanpa ekspresi. Kemudian, ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Lin Mei di tengah salju yang berlumuran darah. Di kuil tua yang remuk itu, hanya terdengar suara angin dan kepulan asap dupa. Dan sebuah kalimat yang terlontar dari bibir Zhang Wei yang sudah menghilang ditelan malam: "Kau akan hidup... dengan penyesalan yang lebih pahit dari kematian."
You Might Also Like: Distributor Skincare Jualan Online

Share on Facebook