Oke, ini dia cerita pendek bergaya Dracin yang kamu minta: **Aku Mencintaimu Bukan Karena Hidup, Tapi Meski Sudah Mati** Guqin melantun lirih di tengah malam yang pekat. Nada-nadanya merayap, membelai dinding-dinding kamar kerja Yi-Fan, seolah mencoba menenangkan jiwanya yang bergejolak. Di luar, hujan musim gugur membasahi taman, memecah kesunyian dengan gemerisiknya yang monoton. Lima tahun. Lima tahun ia menanggung semua ini dalam diam. Pengkhianatan. Kebohongan. Semua terbungkus rapi dalam senyum palsu dan anggukan kepala. Orang-orang menganggapnya lemah, *pengecut*. Mereka tak tahu, diamnya bukan karena ketidakberdayaan, melainkan karena ia menyimpan sebuah *RAHASIA* yang terlalu berbahaya untuk diungkap. Dulu, ada Lin. Lin yang ceria, Lin yang penuh semangat, Lin yang dicintainya *lebih dari hidupnya sendiri*. Mereka berjanji untuk saling menjaga, untuk membangun masa depan bersama. Tapi, seperti sungai yang berubah arah karena batu karang, Lin memilih jalan yang berbeda. Jalan yang bertabur kemewahan dan kekuasaan, jalan yang membawanya ke pelukan wanita lain—Xia Mei, putri tunggal keluarga Zhang yang berpengaruh. Yi-Fan memilih mundur. Bukan karena tak sanggup melawan, tapi karena ia tahu *kebenaran*. Kebenaran tentang kematian orang tua Lin. Kebenaran yang akan menghancurkan seluruh dunia Lin jika terungkap. Orang tua Lin meninggal dalam kecelakaan mobil. Begitulah yang tertulis di surat kabar. Tapi Yi-Fan tahu lebih. Ia melihatnya. Malam itu, dari kejauhan, ia melihat mobil yang menabrak mobil orang tua Lin. Ia melihat *siluet* seseorang keluar dari mobil itu. Seseorang yang sangat dikenalnya. *Xia Mei.* Ia tak punya bukti. Hanya ingatan kelam dan firasat yang kuat. Mengungkapkannya akan sia-sia, bahkan mungkin membahayakan nyawanya sendiri. Lebih baik ia menanggung semua ini dalam diam, melindungi Lin dari kenyataan pahit yang akan menghancurkannya. Namun, takdir punya caranya sendiri untuk membalas dendam. Perusahaan Zhang mengalami krisis. Sahamnya anjlok, hutangnya menumpuk. Xia Mei, yang terbiasa hidup dalam kemewahan, mulai panik. Satu-satunya harapan mereka adalah Lin, yang kini menjabat sebagai CEO perusahaan keluarga Li—perusahaan yang jauh lebih makmur dan berpengaruh dari Zhang. Xia Mei merayu Lin, mencoba memohon belas kasihan. Lin, yang masih mencintainya, tergoyahkan. Ia hampir saja menyelamatkan perusahaan Zhang, mengorbankan perusahaannya sendiri. Saat itulah Yi-Fan bertindak. Ia menyerahkan semua bukti yang dikumpulkannya selama ini kepada media. Bukan bukti tentang kematian orang tua Lin secara langsung, tapi bukti tentang *manipulasi* dan *korupsi* yang dilakukan keluarga Zhang untuk mendapatkan kekayaan mereka. Skandal itu meledak. Perusahaan Zhang hancur dalam semalam. Xia Mei ditinggalkan semua orang. Lin, yang terkejut dan marah, menghadapi Yi-Fan. "Kenapa? Kenapa kau melakukan ini?" teriaknya, matanya merah padam. Yi-Fan menatapnya dengan tenang. "Aku tidak melakukan apa-apa, Lin. Aku hanya membiarkan kebenaran terungkap. Dan kau, Lin, kau berhak tahu siapa sebenarnya wanita yang kau cintai." Lin terdiam. Ia menatap Yi-Fan, lalu menatap ke kejauhan. Ekspresi wajahnya berubah-ubah, antara marah, bingung, dan akhirnya... *penyesalan*. Guqin kembali melantun, kali ini dengan nada yang lebih berat, lebih menyayat hati. Hujan semakin deras, seolah langit pun ikut menangis. Yi-Fan berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Lin yang berdiri terpaku di tengah malam. Ia tahu, Lin akan baik-baik saja. Ia selalu bisa bertahan. Takdir memang kejam, namun terkadang ia juga *adil*. Dan kini, setelah semua ini, Yi-Fan bisa merasakan kedamaian—sebuah kedamaian yang pahit, namun *indah*. Ia mencintai Lin bukan karena hidup, tapi meski sudah mati. Cinta yang rela berkorban, cinta yang rela berdiam diri, cinta yang rela melihat orang yang dicintai bahagia—meski kebahagiaan itu bukan bersamanya. Malam semakin larut. Yi-Fan menatap langit-langit kamarnya, lalu membisikkan sebuah kalimat yang hanya ditujukan untuk dirinya sendiri, sebuah kalimat yang akan terus menghantuinya hingga akhir hayat: Apakah dia akhirnya tahu, alasan sebenarnya aku mencintainya, adalah karena aku sudah *membiarkan diriku mati* untuknya?
You Might Also Like: Rekomendasi Sunscreen Lokal Ringan

Share on Facebook