**Tangisan yang Menyembunyikan Namamu** Kabut tipis menyelimuti Danau Bulan Sabit, serupa tabir yang menyembunyikan luka. Di tepinya, berdiri seorang wanita, Mei, gaun sutranya berkibar tertiup angin. Di tangannya tergenggam lampion kecil, cahayanya menari-nari, menolak padam walau diterpa badai ingatan. Delapan tahun lalu, di tempat yang sama, Jian, lelaki yang dicintainya, berjanji. *“Mei, tunggu aku. Aku akan kembali dan menjadikanmu ratuku.”* Janji yang diukir di langit malam dengan bintang-bintang sebagai saksi. Janji yang kini terasa seperti pecahan beling, melukai setiap sudut hatinya. Jian memang kembali. Bukan sebagai lelaki yang dulu mencintainya, bukan sebagai ksatria yang menjanjikan masa depan, melainkan sebagai panglima perang yang dingin, tatapannya setajam pedang, senyumnya sekeras batu. Ia kembali dengan gelar kebangsawanan, kekayaan, dan seorang selir di sisinya. Mei menemuinya di aula istana yang megah. Matanya berkaca-kaca, namun bibirnya tetap membungkam. "Jian," bisiknya, nama itu terasa asing di lidahnya. Jian hanya menatapnya, tatapan tanpa emosi, seolah Mei hanyalah debu yang beterbangan di hadapannya. *“Kau...siapa?”* Jian bertanya, suaranya sedingin es. Kata-kata itu bagai ribuan anak panah yang menembus jantungnya. Ia menggigit bibirnya, menahan tangis yang mengancam pecah. Di matanya, ia melihat pantulan dirinya sendiri, seorang wanita yang terkhianati, seorang wanita yang **DIHAPUS** dari ingatan seorang lelaki. Malam itu, di bawah cahaya bulan yang redup, Mei melepaskan lampionnya ke danau. Lampion itu hanyut, membawa serta tangis yang menyembunyikan namanya. Ia membiarkan air mata membasahi pipinya, membiarkan kesedihan mengikis hatinya. Beberapa tahun kemudian, kerajaan Jian dilanda kekacauan. Pemberontakan merebak di setiap penjuru. Pasokan logistik terputus. Angin berbisik, membawa kabar tentang makanan yang beracun, tentang mata-mata yang menyusup ke barisan terdepan, tentang strategi perang yang entah bagaimana bocor ke tangan musuh. Jian, sang panglima perang yang tak terkalahkan, tumbang oleh pengkhianatan. Di tengah kekacauan itu, Mei berdiri di balkon istana yang ditinggalkan. Tanpa air mata, tanpa senyum. Ia melihat Jian dibawa pergi, bukan sebagai panglima perang yang gagah berani, melainkan sebagai tahanan yang lemah dan terluka. Ia tahu. Ia tahu siapa yang meracuni makanan, siapa yang menjadi mata-mata, siapa yang membocorkan strategi perang. Ia tahu, karena *Dialah* yang merencanakan semuanya. Bukan dengan amarah, bukan dengan kebencian, melainkan dengan kesabaran seorang wanita yang cintanya dihancurkan. *Kejahatan dibalas dengan kejahatan, tanpa suara, tanpa ampun.* Kini, kerajaan Jian hancur lebur, dan Mei, wanita yang dulu diabaikan, kembali berdiri di Danau Bulan Sabit, menatap bayangannya sendiri di permukaan air yang tenang. Apakah ini akhir dari cintanya? Atau awal dari dendam yang abadi? Senyum tipis mengembang di bibirnya. *Mungkin, cinta yang mati pun bisa menjadi hantu yang paling menakutkan.*
You Might Also Like: 87 Kekurangan Pelembab Gel Ringan Tanpa

Share on Facebook