Tentu, ini kisah dramatis yang Anda minta: **Aku Mencintaimu di Setiap Dunia, dan Selalu Berakhir Sendirian** Malam di Paviliun Seribu Anggrek begitu *PEKAT*. Angin dingin menusuk tulang, membawa serpihan salju yang menempel di sutra merah yang tergantung lesu. Di tengahnya, **Xiǎo Wèi**, wajahnya pucat bagai mayat, bersimpuh di depan altar leluhur. Asap dupa pahit menyesakkan paru-paru, aroma kematian begitu kentara. "Mengapa?" Bisiknya, suaranya bergetar. Di hadapannya, **Lóng Jùn**, pria yang dicintainya lebih dari hidupnya, berdiri membeku. Wajahnya yang biasanya penuh kehangatan kini bagai pahatan es. "Kau tidak akan mengerti," jawab Lóng Jùn, suaranya rendah dan berbahaya. Matanya, dulu sebiru langit musim semi, kini gelap seperti jurang maut. Mereka telah bertemu di banyak kehidupan, di banyak dinasti. Xiǎo Wèi, seorang penari istana yang mempesona. Lóng Jùn, seorang jenderal yang gagah berani. Di setiap dunia, cinta mereka mekar, *MENGGILA*, membakar segalanya. Namun, di setiap dunia pula, takdir kejam memisahkan mereka. Kematian, pengkhianatan, kutukan—segala cara digunakan untuk merenggut kebahagiaan mereka. Di dunia ini, Xiǎo Wèi adalah putri angkat keluarga Xiǎo, pewaris tunggal kekayaan tak terhingga. Lóng Jùn adalah kepala klan Lóng, keluarga militer yang berpengaruh. Cinta mereka dilarang, terhalang oleh perjanjian kuno dan dendam berdarah antara kedua keluarga. "Aku *selalu* mencintaimu," desah Xiǎo Wèi, air matanya membeku di pipi. "Di setiap kehidupan. Bahkan ketika kau membenciku." Lóng Jùn tertawa pahit. "Membencimu? Xiǎo Wèi, kau terlalu naif. Aku tidak membencimu. Aku membenci *DIRIKU* karena mencintaimu." Rahasia itu terungkap perlahan, seperti tirai yang disibak satu per satu. Dendam keluarga Lóng yang berakar pada pengkhianatan berabad-abad lalu. Kutukan yang menghantui setiap generasi, mengikat Lóng Jùn untuk membunuh wanita yang dicintainya. Darah leluhur Xiǎo Wèi yang ternoda oleh kebohongan dan keserakahan. Di lantai, di antara tumpukan abu dupa yang berserakan, tergeletak pedang Lóng Jùn. *DARAH* merah pekat menetes di atas salju putih yang mencair, menciptakan lukisan mengerikan. "Kau tahu aku tidak punya pilihan," bisik Lóng Jùn, matanya terpejam. Xiǎo Wèi tersenyum. Senyum yang dingin, senyum yang mematikan. "Kau *memang* tidak punya pilihan, Lóng Jùn. Sama seperti aku." Ia mengangkat tangannya, memperlihatkan belati perak yang berkilauan di balik lengan bajunya. Belati itu berlumuran racun mematikan, racun yang hanya bisa dibuat oleh keluarga Xiǎo. "Aku sudah lelah," gumamnya. "Lelah dengan cinta yang berujung pada kematian. Lelah dengan takdir yang kejam." Lóng Jùn membuka matanya. Kengerian terpancar jelas di wajahnya. Ia mencoba meraih Xiǎo Wèi, tetapi sudah terlambat. Xiǎo Wèi menusukkan belati itu ke dadanya sendiri. "Tidak!" Raung Lóng Jùn, suaranya membelah keheningan malam. Xiǎo Wèi terhuyung mundur, darah mengalir deras dari lukanya. Ia menatap Lóng Jùn, senyum tipis masih terukir di bibirnya. "Di kehidupan selanjutnya..." bisiknya, suaranya melemah. "...aku akan memastikan...kau akan menderita...seperti yang aku rasakan." Ia jatuh ke lantai, mata terbuka lebar menatap langit-langit paviliun. Lóng Jùn berlutut di sampingnya, memeluk tubuhnya yang semakin dingin. Air matanya membasahi wajah Xiǎo Wèi. Balas dendam telah ditunaikan. Bukan dengan pedang, bukan dengan racun, tetapi dengan *KEHANCURAN* hati yang abadi. Kemudian, sunyi. Hanya suara angin yang menderu di luar paviliun. Di tengah keheningan itu, sebuah bisikan lirih terdengar, menggantung di udara seperti kabut: *Ia tahu bahwa reinkarnasi selanjutnya, Lóng Jùn akan hidup terkurung dalam siksaan ingatan abadi tentang bagaimana ia membunuhnya—dan cinta mereka.*
You Might Also Like: Jualan Skincare Bisnis Sampingan

Share on Facebook