Baiklah, inilah kisah Dracin tragis berjudul 'Cinta yang Hidup di Tubuh Asing': **Cinta yang Hidup di Tubuh Asing** Kabut lavender menyelimuti Lembah Bulan Sabit, tempat Lian dan Bai tumbuh bersama. Seperti akar pohon *wisteria* yang saling melilit, persahabatan mereka tak terpisahkan. Lian, sang pendekar pedang yang lincah, selalu melindungi Bai, sang ahli strategi yang otaknya setajam belati. Mereka adalah *yin* dan *yang*, keseimbangan sempurna. "Kau tahu, Lian," bisik Bai suatu senja, menatap langit yang memerah, "aku merasa ada takdir yang lebih besar menunggu kita." Lian tertawa, rendah dan dalam. "Takdir kita adalah saling menjaga, Bai. Itu sudah cukup." Namun, takdir punya selera humor yang kejam. Semua berawal ketika Kaisar Jatuh Sakit. Desas-desus pengkhianatan merebak seperti jamur di musim hujan. Lian dan Bai terjebak dalam pusaran intrik istana. Bai, dengan kecerdasannya, naik pangkat dengan cepat, menjadi penasihat terdekat Kaisar. Lian, di sisi lain, menjadi bayangan, mata dan telinga Bai di kegelapan. "Percayalah padaku, Lian," kata Bai, matanya berkilat aneh di balik lentera remang. "Aku melakukan ini untuk kita. Untuk masa depan yang lebih baik." Lian merasa ada sesuatu yang ganjil. Kata-kata Bai terasa seperti sutra yang indah, namun menyimpan duri di baliknya. Misteri mulai terkuak ketika Lian menemukan gulungan kuno tersembunyi di perpustakaan rahasia istana. Gulungan itu berisi ramalan tentang dua jiwa yang terikat, namun salah satu akan mengkhianati yang lain demi kekuasaan. ***Siapa yang akan menusuk dari belakang?*** Lian mulai menyelidiki. Jejak-jejak berkhianatan mengarah pada satu nama: BAI. Ternyata, Bai telah membuat perjanjian dengan faksi pemberontak, menjanjikan tahta demi ambisi pribadinya. Konfrontasi mereka terjadi di malam badai petir. Istana bergemuruh, seolah alam semesta ikut merasakan pengkhianatan itu. "Bai! Bagaimana bisa kau...?" Lian mengacungkan pedangnya, matanya berkilat marah. Bai hanya tersenyum sinis. "Kau naif, Lian. Cinta dan persahabatan hanyalah ilusi. Kekuatan adalah SATU-SATUNYA hal yang nyata." "Kau berbohong! Aku mengenalmu sejak kita masih kecil!" "Kau mengenal *bayangan*ku, Lian. Bukan diriku yang sebenarnya." Pedang mereka berdansa dalam kegelapan, menciptakan percikan api yang menyilaukan. Setiap tebasan adalah luka, bukan hanya di tubuh, tapi juga di hati. Akhirnya, Lian berhasil melumpuhkan Bai. Dia menodongkan pedangnya ke leher sahabatnya. "Katakan yang sebenarnya, Bai. Mengapa?" Bai tertawa, batuk darah. "Karena... Aku... *Menginginkan Segalanya!*" Lian ragu sejenak. Kebencian dan cinta bergejolak dalam dirinya. Namun, rasa keadilan dan kehormatan mengalahkan segalanya. Dengan satu gerakan cepat, Lian mengakhiri hidup Bai. Saat Bai tergeletak tak bernyawa di lantai, Lian menemukan surat di saku jubahnya. Surat itu ditujukan padanya, ditulis dengan tinta yang bergetar. *“Lian, jika kau membaca ini, berarti aku telah kalah. Aku tahu kau akan menemukan kebenaran. Aku melakukan semua ini untukmu. Untuk melindungi kau dari takdir yang mengerikan. Maafkan aku karena telah membuatmu membenciku. Rahasia sebenarnya adalah... kita bukan hanya teman. Kita adalah saudara. Dan jiwa kita... TERIKAT. Aku melakukannya agar kau bisa hidup. Agar kau bisa menjadi Kaisar. Aku... aku... adalah tubuh asing yang menampung jiwamu yang sebenarnya."* Lian menjatuhkan surat itu. Air mata membasahi pipinya. Dia telah membunuh saudaranya, sahabatnya, pelindungnya, demi sebuah kebenaran yang terlalu pahit untuk ditelan. Sebelum ambruk, Lian berbisik lirih, "... *Jadi, selama ini, aku hidup karena pengorbananmu...*"
You Might Also Like: Unleash Power Of Pythons Sqlite3

Share on Facebook