**Cinta yang Lahir di Zaman yang Salah** Di antara kabut Sungai Yangtze yang abadi, terukir dalam kanvas waktu yang buram, lahirlah sebuah kisah. Bukan kisah nyata, barangkali, melainkan bisikan angin yang melintasi gerbang dimensi, aroma bunga plum di musim semi yang tak pernah tiba. Awan cendrawasih menari di langit *DILARANG*, seiring langkah kaki Han Xing, sang putri terbuang, menyusuri taman terlarang istana. Hatinya adalah kolam lotus yang kesepian, menanti riak sentuhan yang tak kunjung datang. Di sanalah, di bawah rembulan yang membisu, ia menemukannya. Li Wei, seorang pelukis istana yang terlupakan, tangannya menari di atas sutra, menciptakan *ILUSI* yang lebih hidup dari kenyataan. Matanya, dua bintang yang jatuh dari surga, memantulkan kerinduan yang sama dengan hatinya. Mereka bertemu dalam tatapan, sebuah pertemuan jiwa yang abadi, melampaui batas kasta dan takdir. Cinta mereka adalah lukisan yang tak pernah selesai, goresan kuas di atas kanvas mimpi. Setiap pertemuan adalah pencurian waktu, setiap bisikan adalah janji yang tak terucap. Han Xing memberinya sekuntum bunga persik, simbol cinta yang *ABADI*, Li Wei membalasnya dengan potret dirinya, keindahan yang terkurung dalam bingkai waktu. Namun, takdir adalah dewa yang kejam. Cinta mereka adalah pelanggaran, sebuah dosa yang tak termaafkan. Kaisar, dengan murka bagai naga yang terluka, menjatuhkan hukuman. Li Wei diasingkan ke ujung kerajaan, Han Xing dikurung di menara gading, terpisah oleh tembok prasangka dan hukum yang membatu. Bertahun-tahun berlalu bagai debu yang beterbangan. Istana dipenuhi intrik dan kesepian. Han Xing tetap menyimpan potret Li Wei di hatinya, sebuah api kecil yang menolak padam. Suatu malam, di bawah rembulan yang sama, ia mendengar bisikan. "Li Wei... telah meninggal dunia," suara itu bergema, menyayat hatinya bagai belati berkarat. "Sebelum menghembuskan napas terakhir, ia mengirimkan ini untukmu." Seorang kasim memberikan sebuah kotak berukir. Di dalamnya, bukan potret, melainkan… cermin. Bukan cermin biasa. Di dalamnya, terpantul *KENYATAAN* yang selama ini tersembunyi. Cermin itu adalah gerbang. Gerbang menuju dimensi lain. Li Wei bukanlah pelukis istana. Ia adalah penjelajah waktu, terdampar di masa lalu. Cintanya pada Han Xing adalah kesalahan perhitungan, sebuah paradoks yang akan meruntuhkan realitas. Ia sengaja diasingkan, agar sejarah tidak berubah. Potret yang selama ini ia berikan bukanlah representasi dirinya, melainkan... *PERINGATAN*. Han Xing menatap pantulan dirinya di cermin. Ia bukan putri. Ia adalah… *dirinya sendiri*, seorang ilmuwan abad ke-21 yang terjebak dalam simulasi sejarah. Cinta mereka, segala keindahan dan kesakitannya, hanyalah kode program, algoritma yang terlalu sempurna. Mata Han Xing berkaca-kaca. Ia bebas. Ia bisa kembali ke dunia asalnya. Tapi, harga kebebasan itu adalah kehilangan cinta yang terasa begitu nyata, begitu… *ABADI*. Cermin itu bergetar. Sebuah pesan muncul di permukaannya, terukir dalam bahasa Mandarin kuno. "Jangan pernah melupakan bunga persik itu..."
You Might Also Like: Top 15 Most Beautiful Dog Breeds Image

Share on Facebook