**Ia Menyelamatkanku dari Laut, Tapi Menenggelamkanku dalam Tatapannya** Hujan selalu turun di Makam Keluarga Li. Bukan hujan deras yang menggelegar, melainkan gerimis sunyi yang membasahi nisan-nisan batu, seolah alam semesta ikut menangisi tragedi yang tak terucapkan. Di sanalah aku berada, seorang roh yang terikat antara dunia hidup dan **kegelapan**, menunggu sesuatu yang tak kupahami. Namaku Lin Wei. Aku tenggelam. Bukan hanya di Laut Timur yang ganas, tetapi juga dalam pusaran rahasia yang kini melingkupi kehidupanku – atau *ke-tidak-hidupanku*. Ia menyelamatkanku. Xiao Chen. Seorang nelayan muda dengan mata setajam elang dan tangan sekuat baja. Ia menarikku dari ombak, memberikan napas buatan yang sia-sia, lalu menyaksikan nyawaku melayang pergi seperti asap di udara. Namun, Xiao Chen tidak tahu *kebenaran*. Kebenaran yang mati bersamaku di dasar laut. Kebenaran yang mengikatku di dunia ini, menjadi bayangan yang menolak pergi, aroma melati yang terlalu kuat di hembusan angin. Dunia roh sunyi. Keindahan yang menusuk hati. Bunga-bunga lili putih yang tumbuh di antara nisan tampak bercahaya dalam kegelapan. Aku bisa melihat Xiao Chen mengunjungi makamku setiap hari. Wajahnya penuh luka. Bukan hanya luka fisik karena kerasnya pekerjaan, tetapi juga luka batin yang menganga lebar. Aku ingin berteriak padanya, "Xiao Chen, aku di sini! Aku melihatmu!" Tapi suaraku adalah keheningan. Sentuhanku adalah angin dingin. Aku hanya bisa mengawasinya, merasakan sakitnya, memikul beban yang sama yang dulu membebani hidupku. Awalnya, aku pikir aku kembali untuk *balas dendam*. Menghukum mereka yang bertanggung jawab atas kematianku. Mereka yang menyimpan rahasia kelam di balik senyum palsu. Namun, semakin lama aku berada di dunia ini, semakin aku menyadari bahwa **bukan** balas dendam yang kucari. Aku mencari *kedamaian*. Kedamaian untuk diriku sendiri, untuk Xiao Chen, untuk semua orang yang terperangkap dalam jaring kebohongan. Aku ingin Xiao Chen tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku ingin ia membebaskan diri dari rasa bersalah yang tak seharusnya ia tanggung. Malam demi malam, aku mencoba berkomunikasi. Aku membisikkan kata-kata di telinganya saat ia tertidur. Aku menggerakkan benda-benda kecil di sekitarnya. Aku memanipulasi mimpi-mimpinya. Butuh waktu. Sangat lama. Tapi akhirnya, Xiao Chen mulai mengerti. Ia menemukan petunjuk-petunjuk yang kutinggalkan. Surat-surat yang disembunyikan. Foto-foto yang dibakar sebagian. Potongan-potongan puzzle yang membentuk gambaran mengerikan. Kebenaran terungkap. Bukan kecelakaan yang merenggut nyawaku. Aku dibunuh. Dibunuh oleh orang yang seharusnya melindungiku. Xiao Chen marah. Dendam membara di matanya. Aku takut ia akan melakukan sesuatu yang akan menghancurkannya. Aku mencoba menenangkannya, mengirimkan perasaan damai dan pengampunan. Di saat itulah, aku merasakan sesuatu yang berubah. Ikatan yang menahanku di dunia ini mulai melemah. Beban di pundakku terasa lebih ringan. Aku telah menyampaikan kebenaran. Xiao Chen akan menemukan keadilan, dengan caranya sendiri. Aku menatap Xiao Chen untuk terakhir kalinya. Air mata (atau mungkin hanya gerimis) mengalir di pipiku. Aku mengangkat tanganku, mencoba menyentuh wajahnya. Apa yang sebenarnya ia cari bukan balas dendam, tapi kedamaian… *dan ia menemukannya*.
You Might Also Like: How To Find Your Art Style Youtube And

Share on Facebook