Baiklah, ini dia kisah Dracin tragis berjudul 'Roh yang Menyimpan Rahasia Reinkarnasi', dengan nuansa yang Anda inginkan: **Roh yang Menyimpan Rahasia Reinkarnasi** Kabut tipis menyelimuti Danau Bulan Sabit, menyembunyikan riak air yang menyimpan bisikan kuno. Di tepi danau itulah, **Ling'er** dan **Wei**, tumbuh bersama. Ling'er, dengan senyum secerah mentari pagi, dan Wei, dengan tatapan setajam pedang terhunus. Mereka bagai dua sisi koin giok, tak terpisahkan, terikat janji setia abadi. Atau begitulah yang tampak. "Wei, bulan malam ini mengingatkanku pada malam kita berjanji setia," bisik Ling'er, jarinya menari di atas permukaan air. Senyumnya tak mencapai mata. "Ya, Ling'er. Janji yang ditulis dengan darah dan kesetiaan," balas Wei, suaranya rendah, berat. Tatapannya tertuju pada Ling'er, namun pikirannya berkelana jauh. *Terlalu jauh.* Namun, di balik tawa dan latihan pedang bersama, tersembunyi rahasia yang meracuni jiwa mereka. Wei, secara diam-diam, mulai bermimpi. Mimpi tentang **REINKARNASI**, tentang masa lalu kelam di mana seorang jenderal besar dikhianati oleh orang yang paling dipercayainya. Mimpi tentang **Ling'er**. "Apa yang kau pikirkan, Wei? Kau terlihat gelisah," tanya Ling'er, menyentuh lengan Wei dengan lembut. Sentuhan yang dulu terasa menenangkan, kini terasa seperti bara api membakar kulit. "Tidak ada, Ling'er. Hanya memikirkan bagaimana kita akan melindungi sekte kita dari ancaman," jawab Wei, mengalihkan pandangan. Kebohongan. Kebohongan yang semakin lama semakin mengakar. Semakin dalam Wei menyelam ke dalam mimpinya, semakin jelas gambaran pengkhianatan itu. Jenderal itu, diperdaya oleh senyum manis dan janji setia, lengah, dan akhirnya mati di tangan sahabatnya. Dan sahabat itu... wajahnya mirip dengan Ling'er. *SANGAT* mirip. Keraguan mulai merayapi hati Wei. Mungkinkah Ling'er adalah reinkarnasi dari pengkhianat itu? Mungkinkah senyumnya hanyalah topeng yang menyembunyikan niat jahat yang sama? Ia mulai mencari bukti, menyelidiki catatan kuno, mencuri pandang ke dalam mata Ling'er, mencari setitik pun kegelapan. Pada suatu malam yang penuh badai, Wei menemukan sebuah artefak kuno: Kalung Giok Naga Berdarah. Kalung itu, menurut legenda, hanya bisa dikenakan oleh mereka yang memiliki darah *pengkhianat*. Dan kalung itu... MELINGKAR di leher Ling'er. "Ling'er..." desis Wei, suaranya bergetar. "Kalung itu... dari mana kau mendapatkannya?" Ling'er tersenyum. Bukan senyum cerah yang biasa, melainkan senyum dingin, penuh kemenangan. "Kau akhirnya tahu, Wei. Sudah terlalu lama aku menunggu saat ini." Pengkhianatan terungkap. Ling'er, memang benar, adalah reinkarnasi dari pengkhianat jenderal. Ia telah menunggu reinkarnasi Wei, sang jenderal, untuk membalaskan dendamnya. Bukan dendam atas kematiannya di masa lalu, melainkan dendam karena jenderal itu telah *mencintainya*. Cinta yang ia tolak, cinta yang membuatnya merasa lemah. "Kau... kau mencintaiku di masa lalu?" tanya Wei, suaranya nyaris tak terdengar. "Cinta? Cinta adalah kelemahan, Wei! Aku tidak pernah merasakan cinta. Yang kurasakan hanyalah kekuasaan," jawab Ling'er, matanya berkilat marah. Pertempuran pun terjadi. Pedang beradu, darah memercik di atas kabut. Wei, dengan hati hancur dan tekad bulat, melawan Ling'er. Bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk mengakhiri lingkaran reinkarnasi ini. Di akhir pertempuran, keduanya terkapar di tanah. Wei, dengan pedang Ling'er menancap di dadanya, dan Ling'er, dengan luka menganga di perutnya. "Kau... kau tidak mengerti, Wei," bisik Ling'er, darah mengalir dari mulutnya. "Aku... aku ingin kau membenciku. *Itu* satu-satunya cara agar aku bisa bebas dari bayang-bayangmu..." Wei menatap Ling'er, air mata mengalir di pipinya. "Aku... aku *selalu* mencintaimu, Ling'er." Lalu, semuanya menjadi gelap. Sebelum menutup mata untuk selamanya, Ling'er berbisik, "Mungkin... di kehidupan selanjutnya... kita akan menjadi orang asing."
You Might Also Like: Unlock Night Citys Secrets Discover

Share on Facebook