Baiklah, inilah kisah dracin modern dengan judul "Aku Adalah Hantu di Cintanya yang Tak Mau Pergi": **Aku Adalah Hantu di Cintanya yang Tak Mau Pergi** Hujan Seoul malam itu bukan sekadar air yang jatuh dari langit. Ia adalah air mata kota, membungkus semuanya dalam lapisan *kelabu*. Aroma kopi tumpah di meja kerja, pahitnya serupa rasa yang mengendap di hatiku setiap kali notifikasi dari namanya muncul. Bukan pesan baru, hanya komentar di postingan lama, *sisa-sisa* interaksi yang seharusnya sudah terkubur. Kami bertemu di dunia maya. Bukan Tinder, bukan pula biro jodoh virtual. Kami bertemu dalam kesamaan mimpi: menulis. Kata demi kata, emoji demi emoji, rasa itu tumbuh. Tulus, polos, tapi... **PALSU**. Atau, setidaknya, begitu yang dia yakini. Dia, Ji-hoon, adalah seorang penulis yang sedang naik daun. Aku, Hye-jin, hanyalah seorang editor lepas dengan segudang ide tapi minim keberanian. Cinta kami lahir di antara draf cerita, di tengah malam yang diisi dengan obrolan tentang karakter fiksi yang kami ciptakan bersama. Kami berbagi segalanya, kecuali satu: *identitas asliku*. Aku adalah Hye-jin, ya. Tapi aku juga… **HANTU**. Bukan hantu literal, tentu saja. Aku adalah hantu dari masa lalunya. Cinta pertamanya. Gadis yang pergi tanpa pamit lima tahun lalu, meninggalkan luka yang tak pernah sepenuhnya sembuh. Ji-hoon tidak tahu bahwa Hye-jin yang dia cintai sekarang, yang dia kirimi puisi lewat pesan suara, adalah orang yang sama dengan Hye-jin yang dulu menghilang dari hidupnya. Setiap malam, aku menatap layar ponselku, membaca ulang pesan-pesan darinya. Kata-kata cinta, harapan, dan keraguan. *Keraguan yang selalu menghantuinya*. Dia merasakan sesuatu yang familiar, sebuah resonansi dari masa lalu yang tak bisa dia jelaskan. Aku ingin memberitahunya, ingin mengakui segalanya. Tapi aku takut. Takut kebahagiaan yang kurasakan selama ini hanyalah ilusi. Takut dia akan membenciku. Rahasia ini memaksaku untuk hidup dalam dua dunia. Di siang hari, aku adalah Hye-jin yang profesional, yang menyunting naskahnya, yang memberinya saran. Di malam hari, aku adalah Hye-jin yang dia cintai, yang dia rindukan, yang dia bicarakan lewat telepon sampai suara serak. Semakin lama, semakin aku menyadari bahwa aku tidak bisa terus seperti ini. Kebohongan ini memakan diriku dari dalam. Aku harus mengakhirinya. Tapi bagaimana? Satu malam, Ji-hoon menelepon. Suaranya terdengar berbeda. “Hye-jin…” katanya, “Aku tahu.” *Jantungku berhenti berdetak.* “Aku tahu kamu adalah Hye-jin yang dulu. Aku tahu sejak lama. Aku hanya… takut untuk mengakui.” Rupanya, ada satu pesan yang *tidak pernah* kusadari. Sebuah pesan suara yang terkirim secara tidak sengaja saat aku menyanyikan lagu kesukaannya – lagu yang hanya dinyanyikan Hye-jin yang dulu. Malam itu, air mata kami tumpah bersama hujan Seoul. Aku meminta maaf. Dia memaafkan. Tapi ada sesuatu yang hilang. *KEPERCAYAAN*. Aku memutuskan untuk pergi. Bukan menghilang, tapi benar-benar pergi. Aku berhenti menjadi editornya. Aku memblokir nomornya. Aku menghapus semua jejakku di media sosial. Sebelum menghilang, aku mengiriminya sebuah pesan terakhir. Sebuah pesan yang tidak akan pernah dia balas. Isinya hanya satu kata: **SELAMAT TINGGAL**. Aku pergi, meninggalkan Seoul, meninggalkan cintanya yang *mungkin* masih ada, meninggalkan segalanya. Aku tahu dia akan baik-baik saja. Dia adalah Ji-hoon, seorang penulis berbakat. Dia akan menulis tentangku, tentang kami. Dia akan mengubah sakit ini menjadi seni. Tapi aku? Aku akan terus hidup. Bukan sebagai hantu, tapi sebagai… diriku sendiri. Beberapa bulan kemudian, aku menerima kiriman buku. Novel terbaru Ji-hoon. Di halaman pertama, tertulis: *"Untuk Hye-jin, hantu yang akhirnya berani pergi."* Aku tersenyum. Sebuah senyum pahit yang menyiratkan sebuah bab telah ditutup. Aku membakar buku itu di perapian, membiarkan abunya terbang bersama angin. Puas. Tapi… *kosong*. Mungkin, suatu hari nanti, kita akan bertemu lagi. Mungkin, di kehidupan yang lain, di waktu yang tepat. Sampai saat itu tiba… *aku akan terus mengawasimu, dari jauh*.
You Might Also Like: Simplify Time Conversion Convert

Share on Facebook