**Aku Adalah Musim Semi yang Tak Pernah Kembali** Kabut *violet* menyelubungi Lembah Seribu Bunga, seperti selendang sutra yang ditenun dari air mata dewata. Di sanalah, di tepi sungai yang airnya berkilau bagai serpihan bulan, aku pertama kali melihatmu. Bukan di dunia nyata, kurasa. Mungkin hanya di dalam lipatan mimpi yang tak terjamah, atau di balik kanvas seorang pelukis yang kesepian. Engkau, dengan jubah putih yang berkibar ditiup angin, berdiri di bawah pohon *wisteria* yang bunganya berguguran seperti salju merah muda. Cahaya mentari pagi menembus dedaunan, membentuk lukisan emas di rambutmu yang terurai. Wajahmu...seperti ukiran jade yang baru saja disempurnakan, terlalu sempurna untuk disentuh, terlalu rapuh untuk dimiliki. Aku mendekatimu, jantungku berdegup kencang seperti tabuhan genderang perang. Tapi bibirku kelu, lidahku menjadi batu. Kata-kata yang ingin kuucapkan, terjebak di tenggorokan, berubah menjadi debu. "Siapa kau?" bisikmu, suaramu seperti denting lonceng angin yang berbisik di telingaku. Aku ingin menjawab, aku ingin mengatakan bahwa aku adalah musim semi yang tak pernah kembali, bahwa aku adalah bayangan yang menemanimu di setiap langkah. Tapi yang keluar hanyalah desahan tertahan. Hari-hari berlalu, atau mungkin hanya ilusi waktu yang menari-nari di sekeliling kita. Kita bertemu di taman rahasia yang dipenuhi dengan bunga *peony* yang mekar dengan arogan. Kita berbagi cerita di bawah pohon *maple* yang daunnya berubah menjadi lautan api. Kita saling tertawa, saling menatap, **SALING MENCINTAI**. Namun, ada satu hal yang selalu menghalangiku untuk meraihmu sepenuhnya. Sebuah dinding kaca yang tak kasat mata, sebuah jarak yang tak terukur. Setiap kali aku mencoba menyentuhmu, tanganku menembus tubuhmu, seolah-olah kau hanyalah fatamorgana di tengah padang pasir kehidupan. Suatu malam, di bawah *bulan purnama* yang menggantung di langit seperti koin perak raksasa, kau mengungkap rahasiamu. Air mata mengalir di pipimu yang pucat, membentuk sungai kecil yang berkilauan. "Aku... aku adalah lukisan yang belum selesai," bisikmu, suaramu bergetar. "Aku hanya ada di dalam mimpi pelukis tua yang telah lama pergi." Duniaku runtuh. Semua yang kupercaya hancur berkeping-keping. Cintaku, harapanku, impianku...semuanya hanyalah ilusi, lukisan yang belum selesai. Tapi kemudian, kau menambahkan: "Namun, kau... kau adalah satu-satunya mimpi yang pernah dia lukis dengan tinta *nyata*." ***KEBENARAN*** memukulku seperti badai. Aku bukanlah musim semi. Aku adalah tinta, tinta *yang tak pernah ada* yang digunakan untuk melukis mimpi. Aku adalah ilusi di dalam ilusi. Aku adalah... "...kenangan yang tertinggal di sapuan kuas."
You Might Also Like: Latest Football Highlights Goals Watch

Share on Facebook