## Mahkota yang Berlumur Darah Sendiri Hujan kota merajam jendela apartemenku, sama derasnya dengan notifikasi yang berdatangan. Satu-satunya yang tak kunjung tiba adalah notifikasi darimu. Lima ratus tiga puluh hari, dan layar *chat* itu masih membeku, seputih salju di musim dingin yang tak pernah kita lalui bersama. Aku menyesap kopi pahit, aromanya gagal menutupi getir di hatiku. Aroma kopi itu mengingatkanku pada kafe di seberang kantor, tempat kita pertama kali bertemu. Pertemuan yang dimulai dengan tatapan curi-curi di balik layar ponsel, dan berakhir dengan _*sentuhan jari*_* yang terasa seperti sengatan listrik. Dulu, kita terbiasa bertukar mimpi lewat pesan suara di tengah malam. Sekarang, yang tersisa hanyalah gema suaramu di *headphone*, hantu dari sebuah kenangan yang tak bisa kupadamkan. Setiap malam, aku memutar ulang percakapan kita, mencari petunjuk yang mungkin terlewatkan, jawaban atas pertanyaan yang tak pernah terjawab. Kau adalah **MISTERI** terindah dalam hidupku. Kau adalah mahkota yang berkilauan, yang dengan bodohnya kuletakkan di kepalaku. Aku tidak tahu, mahkota itu berlumur darah… darahku sendiri. Aku tahu, kau menyimpan rahasia. Rahasia yang kau lindungi dengan senyum palsu dan tatapan mata yang selalu menghindar. Rahasia yang akhirnya terbongkar, seperti dinding reyot yang runtuh diterjang badai. Rahasia itu adalah dia. Dia, yang selalu ada di antara kita. Dia, yang menjadi alasan mengapa kau tidak pernah benar-benar menjadi milikku. Dia, yang kini menggenggam tanganmu, di bawah langit yang sama, namun di dunia yang berbeda. Kemarahanku membara seperti api yang menjilat-jilat. Aku ingin berteriak, menghancurkan segalanya, membalas dendam dengan amarah yang membabi buta. Tapi, aku terlalu lelah untuk itu. Aku memilih balas dendam yang lebih lembut, lebih menyakitkan, lebih abadi. Aku menghapus semua fotomu. Aku memblokir nomormu. Aku membuang semua barang yang mengingatkanku padamu. Dan, yang terakhir… Aku mengirimkanmu satu pesan terakhir. "Aku harap kau bahagia dengan pilihanmu. Aku harap kau tidak akan pernah menyesal." Kemudian, aku tersenyum. Bukan senyum sedih, bukan senyum sinis, tapi senyum yang penuh dengan kekuatan dan ketegasan. Senyum yang mengatakan, "Aku telah melepaskanmu." Aku menutup aplikasi pesan. Aku mematikan ponsel. Aku menarik napas dalam-dalam, dan merasakan keheningan menyelimuti diriku. Selesai. Namun, dalam keheningan itu, aku merasakan kekosongan yang mendalam. Kekosongan yang akan menghantuiku selamanya. Dan, di situlah, di dalam kekosongan itu, aku menemukan diriku yang baru. Diriku yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih siap untuk menghadapi masa depan. Karena, pada akhirnya, aku tahu... *Aku akan baik-baik saja.*
You Might Also Like: 14 Goal Line Offense Formation Goal

Share on Facebook