Kisah Populer: Aku Mencintaimu Tanpa Harapan, Tapi Dengan Seluruh Keberanian
Aku Mencintaimu Tanpa Harapan, Tapi Dengan Seluruh Keberanian
Lorong istana itu sepi, dingin, dan kelam. Obor-obor yang menempel di dinding hanya memberikan sedikit cahaya, cukup untuk menampakkan bayangan-bayangan yang menari-nari seolah mengejek. Di ujung lorong, berdiri seorang pria. Bukan, bukan seorang pria. Pria itu adalah Zhen Wei, yang lima tahun lalu dinyatakan tewas dalam pemberontakan.
"Kau kembali," suara wanita itu bagaikan desiran angin di antara pepohonan bambu. Permaisuri Lan, wanita yang selama ini memerintah kerajaan dengan tangan besi, melangkah mendekat. Wajahnya yang anggun menyimpan jejak kesedihan, ataukah itu hanya ilusi yang diciptakan oleh pencahayaan remang?
"Aku kembali, Lan'er," jawab Zhen Wei, suaranya serak, menyimpan kenangan pahit. "Untuk menagih janji yang kau buat."
Lan tersenyum tipis. "Janji? Janji apa yang pantas diingat setelah sekian lama?"
"Janji untuk mencintaiku. Janji untuk bersamaku." Mata Zhen Wei menatap lurus ke dalam mata Lan, mencari kejujuran yang tersembunyi.
Kabut tipis mulai merayapi lantai lorong, menambah kesan misterius. Dulu, mereka sering bertemu di pegunungan yang diselimuti kabut serupa. Di sana, mereka berbagi mimpi dan janji. Tapi mimpi itu hancur, janji itu dikhianati.
"Kau tahu, Zhen Wei, aku harus melakukan apa yang harus kulakukan," Lan berbisik, suaranya nyaris tak terdengar. "Kerajaan ini membutuhkan seorang pemimpin yang kuat. Bukan seorang idealis sepertimu."
"Kekuatan? Atau kekuasaan?" Zhen Wei menertawakan dirinya sendiri. "Aku bodoh karena mempercayaimu. Aku bodoh karena menyerahkan segalanya padamu."
"Kau tidak tahu apa yang telah kulalui," Lan membela diri. "Kau tidak tahu pengorbanan yang telah kubuat."
"Pengorbanan? Atau kepentingan?" Zhen Wei maju selangkah, semakin mendekat pada Lan. "Kau mengirimku ke gerbang kematian, Lan. Kau membiarkan mereka membantai pasukanku."
Lan terdiam. Ekspresinya tak terbaca.
"Dan kau pikir aku tidak tahu?" Zhen Wei melanjutkan. "Kau yang merencanakan pemberontakan itu. Kau yang mengkhianatiku."
Mata Lan berkilat marah. "Itu demi kerajaan! Demi kemakmuran rakyat!"
"Kebohongan," desis Zhen Wei. "Kebohongan yang kau gunakan untuk menutupi ambisimu. Aku mencintaimu dengan seluruh keberanianku, Lan. Tapi cintaku itu buta. Aku tidak melihat monster yang bersembunyi di balik wajah cantikmu."
Tiba-tiba, Lan tertawa. Tawa yang dingin, mengerikan, dan menggema di seluruh lorong.
"Kau salah, Zhen Wei," kata Lan, setelah tawanya mereda. "Kau selalu salah. Aku tidak pernah mencintaimu. Kau hanyalah bidak dalam permainanku."
Zhen Wei terkejut. Rasa sakit dan pengkhianatan yang selama ini ia pendam meledak menjadi amarah yang membara.
"Lalu, mengapa kau membiarkanku hidup?" tanya Zhen Wei, dengan suara bergetar.
Lan mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Zhen Wei. "Karena aku membutuhkanmu. Aku membutuhkanmu untuk memainkan peran terakhirmu."
Kemudian, Lan menjentikkan jarinya. Dari balik bayangan, muncul para pengawal istana. Mereka mengepung Zhen Wei.
Zhen Wei tersenyum pahit. "Aku mengerti sekarang. Aku hanyalah alat untuk mencapai tujuanmu. Tapi kau lupa satu hal, Lan. Aku selalu selangkah lebih maju darimu."
Sebelum para pengawal sempat menyerang, Zhen Wei mengeluarkan sebuah pisau kecil dari balik jubahnya. Dengan gerakan cepat, ia menikam dirinya sendiri.
Lan terkejut. "Apa yang kau lakukan?!"
Zhen Wei tersenyum, darah mengalir dari mulutnya. "Aku mengambil kembali kendali atas narasi ini, Lan. Kau mungkin memenangkan permainan, tapi aku yang menentukan akhir cerita."
Ia menatap Lan dengan tatapan penuh kemenangan, lalu ambruk ke tanah. Saat napas terakhir meninggalkannya, ia berbisik,
"Aku tidak mati lima tahun lalu. Aku dilahirkan kembali malam ini. Dan kaulah, Lan'er, yang telah melahirkan monster sesungguhnya."
Lan berlutut di samping Zhen Wei, air mata mengalir di pipinya. Tapi air mata itu, apakah itu penyesalan? Atau kemenangan yang diraih dengan terlalu mudah?
Di tengah keheningan lorong, hanya suara napas Lan yang terdengar. Dan di dalam hatinya, ia tahu, Zhen Wei tidak benar-benar mati. Ia akan terus menghantuinya, selamanya.
Karena, bahkan dalam kematian pun, Zhen Wei telah MEMANIPULASINYA.
You Might Also Like: 5 Rahasia Interpretasi Mimpi Bertemu